Khutbah Jum'at

Jumat, 28 Oktober 2011

Kemuliaan orang yang berilmu

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ.
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا.
يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا.
أَمَّا بَعْدُ؛ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَّرَ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ.

Jama’ah sholat jum’at yang dirohmati Alloh subhanahu wa ta’ala
Marilah kita bersyukur kepada Alloh subhanahu wa ta’ala yang telah mengaruniakan kepada kita limpahan nikmat dan karuniaNya, sehingga kita masih mampu untuk menjalankan salah satu kewajiban kita sebagai seorang muslim, yaitu melaksanakan sholat jum’at secara berjama’ah.
Sholawat beriringan salam marilah selalu kita hadiahkan kepada Nabi akhir zaman, Nabi penutup yang tidak ada lagi nabi-nabi setelahnya, dialah Nabi Muhammad Shollallohu ‘alaihi wa sallam, beserta keluarga beliau, shohabat-shohabat beliau, dan orang-orang yang berpegang teguh dengan sunnah-sunnah beliau hingga hari kiamat kelak.
Tidak lupa kami mewasiatkan kepada diri kami dan juga pada para jam’ah sekalian untuk senantiasa meningkatkan ketaqwaan kita kepada Alloh subhanahu wa ta’ala. Sebagaimana taqwa adalah melakukan perintah-perintah Nya dan menjauhi larangan-larangan Nya. Semua itu harus kita lakukan dengan ikhlas agar kita mendapatkan balasan yang baik di akhirat kelak.
Jama’ah jum’at rohimakumulloh
Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman :
قُلْ هَلْ يَسْتَوِى الَّذِيْنَ يَعْلَمُوْنَ وَالَّذِيْنَ لاَ يَعْلَمُوْنَ
“Apakah sama orang-orang yang mengetahui dan orang-orang yang tidak mengetahui?”
Mengapa Alloh subhanahu wa ta’ala menggunakan pertanyaan dalam ayat ini? Sungguh karena Alloh ingin agar kita berfikir dan merenungkan apa maksud yang terkandung dalam pertanyaan itu. Jika kita analogikan dalam kehidupan nyata, orang yang ditanya biasanya adalah orang yang pintar, mengetahui sesuatu hal dan tentunya mempunyai wawasan yang luas. Dalam hal ini Alloh subhanahu wa ta’ala memuliakan kita dengan sebuah pertanyaan yang membuat manusia itu berfikir dan mulai menggunakan akal dan hatinya untuk memahami ayat-ayat Alloh. Dari ayat yang telah kita sebutkan tadi, maka kita semua pasti mempunyai jawaban yang sama yaitu, “orang yang berilmu adalah berbeda kedudukannya dibanding dengan orang-orang yang tidak berilmu (bodoh).
Alloh pun telah menjelaskan kedudukan orang-orang yang berilmu, dalam ayatnya :
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آَمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ
“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.”  (AL MUJAADILAH :11)
Orang-orang yang berilmu adalah mereka yang di karuniai Alloh kebaikan, dikatakan dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Mu’awiyah rodhiallohu ‘anhu bahwasanya Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda :
مَنْ يُرِدْ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ
“Barang siapa yang Alloh kehendaki menjadi baik maka Alloh faqihkan dia terhadap agama.”
Jama’ah jum’at yang dimuliakan Alloh subhanahu wa ta’ala
Sungguh mulia perkara menuntut ilmu ini, tidak terbatas pada usia, muda maupun lanjut usia, kaya maupun miskin, tuan maupun budaknya, semua orang mutlak membutuhkan ilmu, khususnya ilmu agama islam. Agama ini juga tegak dengan adanya ilmu. Kita tidak boleh beribadah kepada Alloh subhanahu wa ta’ala jika tidak didasari dengan ilmu yang benar. Sebagaimana perkataan salah seorang imam :
العِلْمُ قَبْلَ الْقَوْلِ وَ الْعَمَلِ
Ilmu itu sebelum perkataan dan amal perbuatan.
Dalam beribadah kita tidak boleh melaksanakannya kecuali setelah ada dalil yang menjelaskannya, karena jika kita tidak mempunyai dasar dalam melakukan ibadah itu, maka kita akan terjatuh dalam perkara yang baru atau bid’ah, karena asal sesuatu dalam beribadah adalah harom, kecuali setelah ada dalil yang membolehkannya. Hal ini berbeda dengan perkara muamalah atau hubungan antar manusia, setiap perkara yang bersangkutan dengan muamalah adalah halal sampai ada dalil yang mengharomkannya.
Jama’ah jum’at yang dimuliakan Alloh subhanahu wa ta’ala
وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ
“Barangsiapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Alloh akan memudahkan jalannya menuju surga.”
Alloh subhanahu wa ta’ala akan menilai perjalanan dan usaha kita dalam mencari ilmu sebagai amalan yang dapat memudahkan jalan kita untuk dapat masuk ke surga Nya. Keluarnya kita dari rumah kita untuk mencari ilmu ini akan dinilai sebagai bentuk jihad di jalan Alloh.
Ulama-ulama terdahulu juga sering melakukan safar atau perjalanan untuk mencari ilmu. Beberapa dari ulama-ulama itu bahkan rela melakukan perjalanan berhari-hari, melintasi suatu daerah ke daerah yang lain hanya untuk mendapatkan satu hadits. Kerja keras dan upaya yang mereka lakukan itu adalah untuk melegakan diri dari hausnya mereka akan ilmu agama. Mereka juga melandaskan niat mereka hanya karena Alloh subhanahu wa ta’ala semata. Sehingga karya-karya mereka dari kitab-kitab itu masih terjaga hingga saat ini. Sesungguhnya suatu karya yang dilandasi dengan keikhlasan kepada Alloh subhanahu wa ta’ala akan selalu terjaga dan dikenang oleh orang-orang.
أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِيِمْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ. فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Khutbah kedua
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَرَ فَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى عَنْهُ وَحَذَّرَ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. صَلاَةُ اللهِ وَسَلاَمُهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.
Ma’asyirol muslimiin rohimakumulloh
Orang-orang yang berilmu pula tidak hanya dengan menuntut ilmu, maka tugas mereka sudah selesai. Akan tetapi masih ada perkara mulia lainnya yang menyusul setelah mereka berilmu, yaitu adalah dengan mengajarkan ilmu yang telah mereka dapatkan kepada orang lain. Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam mendoakan kepada orang-orang yang menyampaikan ilmu yang benar kepada orang lain sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan oleh ibnu mas’ud bahwasanya Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda :
نَضَّرَ اللَّهُ امْرَأً سَمِعَ مِنَّا شَيْئًا فَبَلَّغَهُ كَمَا سَمِعَ فَرُبَّ مُبَلِّغٍ أَوْعَى مِنْ سَامِعٍ
"Allah akan memperindah seseorang yang mendengar sesuatu dariku kemudian dia sampaikan sebagaimana dia mendengarnya, maka bisa jadi orang yang menyampaikan lebih faqih dari yang mendengar".
Semoga Alloh subhanahu wa ta’ala senantiasa memberikan kepada kita semangat untuk terus belajar dan mendalami ilmu dan agar memberikan kemudahan bagi siapa saja yang sedang kesulitan untuk mempelajari agama ini. Dan semoga Alloh memberikan kepada kita hidayah dan taufiq Nya agar kita tidak jatuh pada perkara-perkara bid’ah dalam agama serta mem faqihkan kita dalam ilmu agama islam yang mulia.
Sebagai akhir dari khutbah ini, marilah kita bersholawat kepada Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam, yang mana Alloh subhanahu wa ta’ala telah mendahului kita dalam firman Nya :
إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْئٍ قَدِيْرٌ.
 اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالمُشْرِكِيْنَ وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ المُوَحِّدِيْنَ وَاجْعَلِ اللَّهُمَّ َهذَا البَلَدَ آمِنًا مُطْمَئِنًّا وَسَائِرُ بِلاَدِ المُسْلِمِيْنَ يَا رَبَّ العَالمَِيْنَ.
اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ مَا سَأَلَكَ بِهِ عِبَادُكَ الصَّالِحُوْنَ، وَنَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا اسْتَعَاذَ بِكَ مِنْهُ عِبَادُكَ الصَّالِحُوْنَ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.

Khutbah Jum'at

Kamis, 06 Oktober 2011

Adakah Iman kita sudah teruji?
Khutbah Pertama
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنِ اهْتَدَى بِهُدَاهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.
يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ.
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا.
يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا. أَمَّابَعْدُ؛
فَإِنْ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَّرَ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ.
Hadirin jamaah Jum’at yang berbahagia
 Alhamdulillah segala puji hanyalah bagi Allah semata. Sholawat serta salam marilah selalu kita haturkan kepada nabi Muhammad saw, yang telah membawa kita dari zaman yang penuh dengan tradisi-tradisi jahiliyah menuju zaman yang penuh dengan cahaya keislaman yang bisa kita rasakan pada saat ini.
Tidak lupa kami selalu mengingatkan kepada diri kami dan para jama’ah sekalian, untuk meningkatkan ketaqwaan kita kepada Alloh swt, karena sebaik-baik bekal yang dapat kita bawa untuk menghadapnya adalah taqwa.
Alloh swt berfirman dalam surat al ankabut ayat kedua dan ketiga :
أحسب الناس ان يتركوا ان يقولوا امنا وهم لا يفتنون . ولقد فتنا الذين من قبلهم فليعلمن الله الذين صدقوا وليعلمن الكاذبين .
“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, “Kami telah beriman,” dan mereka tidak duji?. Dan sungguh, kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka Alloh pasti mengetahui orang-orang yang benar dan pasti mengetahui orang-orang yang dusta.”
   Ayat diatas menjelaskan kepada kita bahwa siap menghadapi ujian yang diberikan Allah Subhannahu wa Ta'ala adalah salah satu konsekuensi pernyataan iman kita, kita juga dituntut untuk membuktikan sejauh mana kebenaran dan kesungguhan kita dalam menyatakan iman, apakah iman kita itu benar-benar bersumber dari keyakinan dan kemantapan hati, atau sekedar ikut-ikutan serta tidak tahu arah dan tujuan, atau pernyataan iman kita didorong oleh kepentingan sesaat, ingin mendapatkan kemenangan dan tidak mau menghadapi kesulitan seperti yang digambarkan Allah swt  dalam surat Al-Ankabut ayat 10:
   Dan di antara manusia ada orang yang berkata: “Kami beriman kepada Allah”, maka apabila ia disakiti (karena ia beriman) kepada Allah, ia menganggap fitnah manusia itu sebagai azab Allah. Dan sungguh jika datang pertolongan dari Tuhanmu, mereka pasti akan berkata: “Sesungguh-nya kami adalah besertamu.” Bukankah Allah lebih mengetahui apa yang ada dalam dada semua manusia”?
Hadirin jamaah Jum’at yang dimuliakan Alloh
Sungguh bila kita telah menyatakan iman  dengan juga mengharap akan merasakan manisnya buah iman itu maka Alloh sungguh telah berjanji dalam firman Nya :
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal shalih, bagi mereka adalah Surga Firdaus menjadi tempat tinggal.” (Al-Kahfi 107).
Rintangan yang akan menghadang kita pun tidaklah sedikit dan mudah untuk dilewati, janganlah mengharapkan untuk mendapatkan surga hanya dengan berangan-angan tanpa ada usaha yang nyata, Alloh swt berfirman :
“Apakah kalian mengira akan masuk Surga sedangkan belum datang kepada kalian (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kalian? Mereka ditimpa malapetaka dan keseng-saraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersama-nya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguh-nya pertolongan Allah itu amat dekat”. (Al-Baqarah 214).
   Rasulullah Shallallaahu alaihi wa salam mengisahkan betapa beratnya perjuangan orang-orang dulu dalam perjuangan mereka mempertahankan iman mereka, sebagaimana dituturkan kepada sahabat Khabbab Ibnul Arats Radhiallaahu anhu.
لَقَدْ كَانَ مَنْ قَبْلَكُمْ لَيُمْشَطُ بِمِشَاطِ الْحَدِيْدِ مَا دُوْنَ عِظَامِهِ مِنْ لَحْمٍ أَوْ عَصَبٍ مَا يَصْرِفُهُ ذَلِكَ عَنْ دِيْنِهِ وَيُوْضَعُ الْمِنْشَارُ عَلَى مِفْرَقِ رَأْسِهِ فَيَشُقُّ بِاثْنَيْنِ مَا يَصْرِفُهُ ذَلِكَ عَنْ دِيْنِهِ. (رواه البخاري).
... Sungguh telah terjadi kepada orang-orang sebelum kalian, ada yang di sisir dengan sisir besi (sehingga) terkelupas daging dari tulang-tulangnya, akan tetapi itu tidak memalingkannya dari agamanya, dan ada pula yang diletakkan di atas kepalanya gergaji sampai terbelah dua, namun itu tidak memalingkannya dari agamanya... (HR. Al-Bukhari).
Subhanallah, sudahkah kita pernah merenungi, apa yang sebenarnya telah kita lakukan untuk membuktikan iman kita? Bila kita melihat perjuangan rosulullah saw dan para shohabatnya maka akan kita dapati mereka bahkan rela mengorbankan nyawa mereka untuk memperjuangkan aqidah dan iman yang ada dalam dada mereka. Apakah kita tidak malu untuk meminta balasan yang besar dari Alloh sedangkan pengorbanan kita tidak sebanding dengan yang kita harap.
  Hadirin sidang Jum’at yang dirahmati Allah
   Ujian yang diberikan oleh Allah kepada manusia adalah berbeda-beda.
   Dan ujian dari Allah bermacam-macam bentuknya, setidak-nya ada empat macam ujian yang telah dialami oleh para pendahulu kita:
   Yang pertama: Ujian yang berbentuk perintah untuk dilaksanakan, seperti perintah Allah kepada Nabi Ibrahim Alaihissalam untuk menyembelih putranya yang sangat ia cintai. Ini adalah satu perintah yang betul-betul berat dan mungkin tidak masuk akal, bagaimana bisa seorang bapak  menyembelih anaknya yang sangat dicintai, padahal anaknya itu tidak melakukan kesalahan apapun. Sungguh ini ujian yang sangat berat sehingga Allah sendiri mengatakan:
   Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. (Ash-Shaffat 106).
Maka kita dapat melihat kesungguhan nabi ibrohim dan kerelaan nabi isma’il untuk bersedia mempersembahkan dirinya disembelih untuk melaksanakan perintah Alloh swt. Kita juga merasakan dalam hidup kita, banyak sekali perintah Alloh yang terasa berat, dan dengan berbagai alasan kita mencoba untuk bisa menghindarinya. Sebagai contoh, Allah telah memerintahkan kepada para wanita Muslimah untuk mengenakan jilbab (pakaian yang menutup seluruh aurat) secara tegas untuk membedakan antara wanita Muslimah dan wanita musyrikah sebagaimana firmanNya :
Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang Mumin” “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Al-Ahzab, 59).
Namun apabila kita lihat kenyataan pada zaman sekarang, masih banyak wanita-wanita muslimah yang enggan memakai jilbab bahkan dengan bangga membuka aurot mereka didepan umum dengan alasan hak asasi mereka. Maka sungguh, itu adalah pertanda iman mereka belum teruji. Padahal Rasulullah Shallallaahu alaihi wa salam memberikan ancaman kepada para wanita yang tidak mau memakai jilbab dalam sabdanya:
صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا؛ قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُوْنَ بِهَا النَّاسَ، وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيْلاَتٌ مَائِلاَتٌ رُؤُوْسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لاَ يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلاَ يَجِدْنَ رِيْحَهَا. (رواه مسلم).
 “Dua golongan dari ahli Neraka yang belum aku lihat, satu kaum yang membawa cambuk seperti ekor sapi, yang dengan cambuk itu mereka memukul manusia, dan wanita yang memakai baju tetapi telanjang berlenggak-lenggok menarik perhatian, kepala-kepala mereka seperti punuk unta, mereka tidak akan masuk Surga dan tidak akan mencium wanginya”. (HR. Muslim).
   Yang kedua: Ujian yang berbentuk larangan untuk ditinggalkan. seperti halnya yang terjadi pada Nabi Yusuf Alaihissalam yang diuji dengan godaan seorang perempuan cantik, istri seorang pembesar di Mesir yang mengajaknya berzina, dan kesempatan itu sudah sangat terbuka, ketika keduanya sudah tinggal berdua di rumah dan si perempuan itu telah mengunci seluruh pintu rumah. Namun Nabi Yusuf Alaihissalam membuktikan kualitas imannya, ia berhasil melepaskan diri dari godaan perempuan itu, padahal sebagaimana pemuda umumnya ia mempunyai hasrat kepada wanita.
   Yang ketiga: Ujian yang berbentuk musibah seperti terkena penyakit, ditinggalkan orang yang dicintai dan sebagainya. Sebagai contoh, Nabi Ayyub Alaihissalam yang diuji oleh Allah dengan penyakit yang sangat buruk sehingga tidak ada sebesar lubang jarum pun dalam badannya yang selamat dari penyakit itu selain hatinya, seluruh hartanya telah habis tidak tersisa sedikitpun untuk biaya pengobatan penyakitnya dan untuk nafkah dirinya, seluruh kerabatnya meninggalkannya, tinggal ia dan isterinya yang setia menemaninya dan mencarikan nafkah untuknya. Musibah ini berjalan selama delapan belas tahun, sampai pada saat yang sangat sulit sekali baginya ia meratap sambil berdo’a kepada Allah:
Dan ingatlah akan hamba Kami Ayuub ketika ia menyeru Tuhan-nya;” Sesungguhnya aku diganggu syaitan dengan kepayahan dan siksaan”. (QS. Shod : 41).
Dan ketika itu Allah memerintahkan Nabi Ayyub Alaihissalam untuk menghantamkan kakinya ke tanah, kemudian keluarlah mata air dan Allah menyuruhnya untuk meminum dari air itu, maka hilanglah seluruh penyakit yang ada di bagian dalam dan luar tubuhnya. Begitulah ujian yang Allah kepada Nabi Nya, masa delapan belas tahun ditinggalkan oleh sanak saudara merupakan perjalanan hidup yang sangat berat, namun di sini Nabi Ayub Alaihissalam membuktikan ketangguhan imannya, tidak sedikitpun ia merasa menderita dan tidak terbetik pada dirinya untuk menanggalkan imannya.
Sidang jamaah jum’at yang berbahagia
   Yang keempat: Ujian lewat tangan orang-orang kafir dan orang-orang yang tidak menyenangi Islam. Cukuplah bagi kita dengan apa yang telah dialami oleh nabi Muhammad saw dan para sahabatnya, sungguh keimanan mereka duji dengan berbagai cobaan yang teramat berat yang menuntut pengorbanan harta benda bahkan nyawa.
Juga sebagai contoh, seperti apa yang dialami oleh Yasir dan istrinya Sumayyah dua orang pertama yang meninggal di jalan dakwah karena gigihnya mempertahankan iman mereka. Juga Bilal Ibnu Rabah Radhiallaahu anhu yang dipaksa memakai baju besi kemudian dijemur di padang pasir di bawah sengatan matahari, kemudian diarak oleh anak-anak kecil mengelilingi kota Mekkah dan Bilal Radhiallaahu anhu hanya mengucapkan “Ahad, Ahad”.
Dan masih banyak kisah-kisah lain yang menunjukkan betapa pengorbanan dan penderitaan mereka dalam perjuangan mempertahankan iman mereka. Namun penderitaan itu tidak sedikit pun mengendorkan semangat Rasulullah dan para shahabatnya untuk terus berdakwah dan menyebarkan Islam.
Peristiwa seperti ini mungkin akan terulang kembali selama dunia ini masih tegak, selama pertarungan haq dan bathil belum berakhir, sampai pada saat yang telah ditentukan oleh Allah.
   Kita berdo’a mudah-mudahan saudara-saudara kita yang gugur dalam mempertahankan aqidah dan iman mereka, dicatat sebagai para syuhada di sisi Allah. Amin. Dan semoga umat Islam yang berada di daerah lain, bisa mengambil pelajaran dari berbagai peristiwa, sehingga mereka tidak lengah menghadapi orang-orang kafir dan selalu berpegang teguh kepada ajaran Allah serta selalu siap sedia untuk berkorban dalam mempertahankan dan meninggikannya, karena dengan demikianlah pertolongan Allah akan datang kepada kita, firman Allah.
   “Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu”. (Muhammad: 7).
أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ. وَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Khutbah Kedua
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيْرًا بَصِيْرًا، تَبَارَكَ الَّذِيْ جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوْجًا وَجَعَلَ فِيْهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيْرًا. أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وأََشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وُرَسُولُهُ الَّذِيْ بَعَثَهُ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا، وَدَاعِيَا إِلَى الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. أَمَّا بَعْدُ؛
يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَقُوا اللهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ خَبِيْرٌ بِمَا تَعْمَلُوْنَ.
Hadirin jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah!
   Sebagai orang-orang yang telah menyatakan iman, kita harus mempersiapkan diri untuk menerima ujian dari Allah, serta kita harus yakin bahwa ujian dari Allah itu adalah satu tanda kecintaan Allah kepada kita, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallaahu alaihi wa salam :
إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلاَءِ وَإِنَّ اللهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا اِبْتَلاَهُمْ، فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السُّخْطُ. (رواه الترمذي، وقال هذا حديث حسن غريب من هذا الوجه).
   Sesungguhnya besarnya pahala sesuai dengan besarnya cobaan (ujian), Dan sesungguhnya apabila Allah mencintai satu kaum Ia akan menguji mereka, maka barangsiapa ridha baginyalah keridhaan Allah, dan barangsiapa marah baginyalah kemarahan Allah”. (HR. At-Tirmidzi, dan ia berkata hadits ini hasan gharib dari sanad ini, Sunan At-Timidzy cet. Dar Al-Kutub Al-Ilmiyyah, juz 4 hal. 519).
     Mudah-mudahan kita semua diberikan ketabahan dan kesabaran oleh Allah dalam menghadapi ujian yang akan diberikan olehNya kepada kita.  Amin.
إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ وَرَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْ كُلِّ صَحَابَةِ رَسُوْلِ اللهِ أَجْمَعِيْنَ.
رَبَّنَا لاَ تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنتَ الْوَهَّابُ.
رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.
اَللَّهُمَ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَصْلِحْ وُلاَةَ الْمُسْلِمِيْنَ، وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِهِمْ وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِهِمْ وَانْصُرْهُمْ عَلَى عَدُوِّكَ وَعَدُوِّهِمْ وَوَفِّقْهُمْ لِلْعَمَلِ بِمَا فِيْهِ صَلاَحُ اْلإِسْلاَمِ وَالْمُسْلِمِيْنَ.
اَللَّهُمَ لاَ تُسَلِّطْ عَلَيْنَا بِذُنُوْبِنَا مَنْ لاَ يَخَافُكَ فِيْنَا وَلاَ يَرْحَمُنَا.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

Khutbah Jum'at


Memakmurkan masjid

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ.
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا.
يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا.
أَمَّا بَعْدُ؛ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَّرَ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ.
Alloh swt berfirman :
وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَداً
“Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah untuk Alloh. Maka janganlah kamu menyembah apa pun didalamnya selain Alloh.” (Q.S al Jinn : 18)
Wahai hamba-hamba Alloh, bertaqwalah dengan sebenar-benarnya taqwa, ketahuilah bahwa sesungguhnya diantara rumah-rumah Alloh yang ada di muka bumi ini adalah masjid. Didalamnya seorang hamba melakukan ibadah dan berdzikir kepada Robbnya. Orang-orang yang selalu mendatangi masjid adalah para pemakmur masjid. Syariat islam dan cahaya kerelegiusan terpancar secara jelas dari dalamnya.
 Masjid adalah tempat yang paling dicintai Alloh karena didalamnya diajarkan dan menyebarnya  ilmu-ilmu, masjid berperan sebagai center of knowledge atau pusat keilmuan yang didalamnya  para mu’allim dan para da’i memberikan pengajaran kepada khayalak masyarakat yang datang kemasjid, khususnya yang berkaitan dengan agama islam dan al Quran. Para malaikat pun ikut meridhoi mereka dengan menaungi mereka dengan sayapnya, Nabi saw bersabda :
مَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوْتِ اللهِ يَتْلُوْنَ كِتَابَ اللهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلاَّ نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِيْنَة وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَة وَحَفَّتْهُمُ المَلاَئِكَةُ وَذَكَرَهُمُ اللهُ فِيْمَنْ عِنْدَهُ. (رواه مسلم)
“Tiada suatu kaum pun yang sama berkumpul dalam salah satu rumah dari rumah-rumah Allah - yakni masjid - sambil membaca Kitabullah dan saling bertadarus di antara mereka itu - yaitu berganti-gantian membacanya, melainkan turunlah ketenangan di atas mereka, serta mereka akan diliputi oleh kerahmatan dan diliputi oleh para malaikat dan Allah menyebut-nyebutkan mereka itu kepada makhluk-makhluk yang ada di sisiNya - yakni para malaikat." (H.R Muslim)
Jama’ah jum’at yang dirohmati alloh
Sungguh membangun masjid adalah perkara yang sangat mulia dan mempunyai keutamaan yang sangat agung, dan orang-orang yang memakmurkan masjid disifati oleh Alloh sebagai orang yang beriman seperti dalam ayat Nya :
 إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِر وَأَقَامَ الصَّلاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلاَّ اللَّهَ فَعَسَى أُوْلَئِكَ أَنْ يَكُونُوا مِنْ الْمُهْتَدِينَ.
“sesungguhnya yang memakmurkan masjid Alloh hanyalah orang-orang yang beriman kepada Alloh dan hari kemudian, serta (tetap) melaksanakan sholat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada apapun) kecuali kepada Alloh. Maka mudah-mudahan mereka termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Q.S at Taubah :18)
Orang-orang yang berjalan menuju masjid kepergian dan kepulangannya dijanjikan oleh Alloh akan disediakan hidangan di surga kelak, Rosulullah saw bersabda :
مَنْ غَدَى إِلَى الَمَسْجِدِ أَوْ رَاحَ أَعَدَّ اللهُ لَهُ فِي الجَنَّةِ نُزلاً، كُلَّمَا غَدَى أَوْ رَاحَ. (متفق عليه)
“"Barangsiapa pergi ke masjid pada waktu pagi atau petang hari, maka Allah menyediakan untuknya suatu hidangan - yang lazim diberikan untuk tamu - di syurga, setiap kali ia pergi pagi atau petang hari itu." (muttafaq ‘alaih)
Alloh juga menjanjikan bagi orang-orang yang terkait hatinya dengan masjid akan di naungi pada hari dimana tidak ada lagi naungan selain dari naungan Nya. Ketika Rosulullah saw mengabarkan perihal tujuh golongan orang yang akan mendapatkan naungan dari Alloh, rosululloh juga menyebutkan diantaranya adalah orang-orang yang hatinya terkait dengan masjid. Sudah sepatutnya kita menjaga untuk melaksanakan sholat di dalamnya karena itu adalah tanda-tanda kebaikan seseorang.
Sungguh, membangun masjid adalah suatu perkara yang sangat besar, rosulullah ketika melakukan hijrah ke madinah pekerjaan pertama kali yang beliau lakukan adalah membangun masjid. Perkara ini patut di contoh jika seorang muslim mendapati di negerinya belum terdapat masjid, agar membangunnya, karena dari masjid lah syiar islam dapat berkembang dan tersebar luas.
Jama’ah sholat jum’at yang dirohmati Alloh
Rosulullah saw juga menganjurkan kita untuk melaksanakan sholat secara berjama’ah dimasjid karena banyaknya keutamaan dan keistimewaan yang terkandung didalamnya, diantaranya adalah, dia akan mendapatkan pahala dari sholat jama’ahnya dua puluh tujuh atau dua puluh lima kali lipat daripada dia melakukan sholat sendiri, Dari Ibnu Umar radhiallahu 'anhuma bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda: "Shalat jamaah adalah lebih utama dari shalat fardyah - yakni sendirian -dengan kelebihan dua puluh tujuh derajat." (Muttafaq 'alaih)
Apabila seorang hamba berwudhu dan memperbagus wudhunya, kemudian dia berjalan pergi kemasjid, maka setiap langkahnya akan dinilai sebagai kebaikan dan langkah yang lain akan menghapus dosanya, malaikat juga akan mendoakan agar dia diampuni dan dirohmati selama dia masih berada di tempat sholatnya, rosululloh saw bersabda :
المَلاَئِكَةُ تُصَلِّي عَلَى أَحَدِكُمْ مَا دَامَ فِي مُصَلاَّهُ الَّذِي صَلَّى فِيْهِ مَا لَمْ يُحْدِثْ، تَقُوْلُ : اللَّهُمَّ اغْفِرْلَهُ، اللَّهُمَّ ارْحَمْهُ. (رواه البخاري)
“Para malaikat senantiasa mendoakan salah seorang diantara kamu selama dia masih berada dalam tempat dimana ia sholat, mereka berkata, “ya Alloh ampunilah dia, ya Alloh rahmatilah dia.” (H.R Bukhori)
Rosulullah saw juga memperingatkan dengan peringatan yang sangat keras bagi orang-orang yang meninggalkan sholat jama’ah di masjid, dengan mensifati mereka seperti orang munafik. Adapun bagi orang-orang munafiq, sholat yang paling berat mereka rasakan adalah sholat shubuh dan juga sholat ‘isya, Dari Abu Hurairah r.a. beliau berkata : "Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Tidak ada suatu shalat pun yang paling berat dirasakan oleh orang-orang munafik itu daripada shalat Subuh dan Isya', tetapi andaikata mereka mengetahui betapa besar pahalanya kedua shalat itu, niscaya mereka akan mendatanginya sekalipun dengan berjalan merangkak ke tempat jamaahnya." (Muttafaq 'alaih)
Bahkan Rosululloh juga pernah menyuruh seseorang untuk mengimami sholat jama’ah, dan kemudian Rosululloh pergi dengan membawa kayu bakar dan mengancam akan membakar rumah orang yang tidak melaksanakan sholat secara berjama’ah. Akan tetapi karena diantara mereka terdapat kaum perempuan dan anak-anak kecil, maka Rosululloh mengurungkan niatnya untuk membakar rumah-rumah tersebut.
أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِيِمْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ. فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Khutbah kedua  
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَرَ فَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى عَنْهُ وَحَذَّرَ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. صَلاَةُ اللهِ وَسَلاَمُهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.
Jama’ah sholat jum’ah yang dirohmati oleh Alloh
Sungguh pada zaman sekarang ini, banyak kita melihat kenyataan bahwa banyak orang yang berlomba-lomba untuk membangun masjid, akan tetapi sangat sedikit sekali orang-orang yang mau memakmurkan masjid-masjid tersebut. Sehingga kita dapat melihat masjid-masjid itu sangat sepi ketika waktu sholat telah tiba, bahkan yang memprihatinkan adalah beberapa masjid yang bahkan ketika waktu sholat datang, tidak ada sama sekali orang yang mengadakan sholat jama’ah didalamnya. Kita juga dapat melihat bahwa kebanyakan jama’ah sholat lima waktu dimasjid banyak didominasi oleh orang-orang tua, yang menjadi pertanyaan bagi kita adalah, “kemanakah anak-anak muda islam, yang seharusnya bisa menjadi penerus umat islam ini?, apakah mereka terlena akan masa mudanya sehingga dengan mudahnya menghiraukan panggilan adzan, hanya untuk mencari kesenangan dunia hingga lupa akan kewajibannya sebagai seorang muslim?”
Marilah kita berdoa agar Alloh menetapkan hati kita dalam ketaatan kepada Nya dan diteguhkan diri kita dalam agama islam hingga kelak nyawa kita meregang dari raga dan semoga kita semua mendapat akhir kehidupan yang baik atau husnul khotimah. Dan marilah kita bersholawat kepada Rosululloh saw yang mana Alloh swt telah mendahului kita dengan ayatnya :
إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْئٍ قَدِيْرٌ. اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالمُشْرِكِيْنَ وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ المُوَحِّدِيْنَ وَاجْعَلِ اللَّهُمَّ َهذَا البَلَدَ آمِنًا مُطْمَئِنًّا وَسَائِرُ بِلاَدِ المُسْلِمِيْنَ يَا رَبَّ العَالمَِيْنَ. اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ مَا سَأَلَكَ بِهِ عِبَادُكَ الصَّالِحُوْنَ، وَنَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا اسْتَعَاذَ بِكَ مِنْهُ عِبَادُكَ الصَّالِحُوْنَ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.