Rubrik Renungan Keluarga

Rabu, 30 Maret 2011
Di benda itu, aku sering menyaksikan sepasang pemuda-pemudi yang sedang duduk bersebelahan di taman. Mereka saling berpegangan tangan. Mereka saling berkata dengan perkataan yang saat itu aku anggap sebagai lantunan-lantunan puisi. Berulang kali, selalu sama, walau berbeda-beda orang, namun selalu ada adegan-adegan seperti itu.

Aku menyaksikannya dengan tak berkedip, seakan-akan itu adalah sebuah tontonan yang tak bisa kusaksikan lagi untuk selamanya. Namun aku tak sendiri, engkau ada bersama denganku, menikmati detik demi detik aliran cerita itu. Tak sedikitpun engkau menghalangiku untuk tenggelam dalam tontonan yang membuaikan itu. Walaupun membuat aku melupakan belajar malamku, bahkan kadang-kadang, hingga aku melewatkan shalat maghrib dan shalat isya'ku.

Tahukah engkau, wahai ayah, wahai bunda, bahwa ternyata, sedikit demi sedikit aku mencontoh setiap apa yang kulihat dari tayangan-tayangan tersebut. Aku mulai mencobanya dengan teman-teman sekelasku. Mengajak mereka untuk mempraktekkan setiap gerakan demi gerakan sesuai dangan yang pernah aku saksikan. Ya, aku mulai menjadikan setiap kelakuan para "artis" sebagai "contoh yang baik", menurutku.

Tahukah engkau apa yang terjadi beberapa tahun kemudian? Aku dengan" senang hati" memasukkan diriku dalam pergaulan yang tiada batas. Dalam pergaulan yang di setiap langkah para penghuninya mencontoh kelakuan-kelakuan para "artis". Tak peduli salah atau benar, persis seperti tayangan "benda itu", benar dan salah tak jadi masalah, yang penting "berkah", menurut mereka.

Ayah, bunda, mengapa aku terjerumus dalam lingkungan seperti ini? Karena aku yang tak bisa menjaga diriku? Karena teman-temanku yang tak bisa menunjukkan mana yang baik mana yang salah? Karena engkau yang tak bisa mendidikku?
Ayah, bunda, semua ini diawali karena kesalahan engkau berdua. Kesalahan karena membiarkan aku dengan "senang hati" menjadikan "benda itu" sebagai kiblat akhlaqku. Membiarkanku menjadikan "benda itu" sebagai tuntunan dalam hidupku.

Ayah, bunda, sekiranya engkau tak menempatkan "benda itu" dalam rumah tangga kita, tentunya aku akan menjadi lebih baik.Aku tak akan melawan engkau seperti melawannya sinchan terhadap ibunya. Aku tak akan memukul engkau seperti memukulnya batman, spiderman, atau naruto. Aku tak akan membuang-buang waktuku untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang tak bermanfaat, sebagaimana dulu engkau "mengajariku" untuk membuang-buang waktu. Dengan membiarkan aku tanpa henti dudk manis di depan televisi. Tahukah engkau, "benda itu" adalah perusak awal akhlaq dan kepribadianku.

Engkau memasukkan "benda itu" ke dalam rumah tangga kita, berarti engkau telah memasukkan berjuta-juta perusak moral, akhlaq, dan kepribadianku. Karena sebagian besar, untuk tak dikatakan semuanya, isi dari "benda itu" adalah hal-hal yang bisa membentuk pribadiku, seorang manusia. Apakah engkau rela  aku menjadi sebuah "benda itu" dalam bentuk manusia. Yang di dalamnya berkumpul hal-hal yang merusak. aku bisa merusak rumah tangga, masyarakat, hingga sebuah Negara. Bahkan aku bisa merusak akhiratmu. Karena apa? Karena aku adalah anakmu. Penerus keturunanmu. Penerus agamamu. Jika aku engkau rusak, siapa lagi yang akan jadi anak sholih yang akan mendo'akanmu.
Ayah, bunda, renungkanlah.                                               

Aku berangkat ke sekolah berboncengan dengan seorang perempuan yang kusebut ia di depanmu sebagai "pacar". Di sekolah aku tak mendengarkan pelajaran dengan seksama. Aku mulai main-main handphone. Selesai sekolah aku tak lekas kembali ke rumah. Bersama teman-temanku aku menelusuri kota. Bioskop, mall, warnet, hingga tempat "dugem" adalah tempat tujuan kami. Tak jarang aku mabuk hingga tengah malam. Narkoba pun sudah tak asing dengan kehidupanku.

Aku pulang di atas jam 9 malam. Bahkan tak jarang hingga tak pulang 2 hari. Ketika pulang, kau memarahiku. Aku dengarkan, namun amarahmu tak pernah menghentikanku untuk mengulang aktivitas yang "menyenangkan" itu. Teman-temanku selalu mendukung perbuatanku itu.
Walau menyenangkan, namun hidupku tak lebih baik dari sampah, begitu yang engkau katakan ketika tahu aku mengkonsumsi narkoba. Padahal, itu sudah berjalan 2 tahun. Tapi jujur, aku juga merasa demikian, aku tak tahu apa tujuan hidupku di dunia ini. Aku selalu iri ketika melihat Fulan mengaji di masjid sebelah rumahku. Aku selalu benci memandangnya dengan tatapan jengkel, padahal dia begitu baik padaku. Fulan adalah lulusan sebuah pondok di Yogyakarta. Aku sering berpikir seandainya dulu aku masuk pondok sepertinya, aku pasti akan lebih baik dari padanya. Setiap engkau memarahiku, aku selalu berpikir bahwa aku menjadi sampah disebabkan olehmu.

Ya, penyebabnya adalah engkau. Mengapa engkau memasukkanku ke sekolah yang laki-laki dan perempuan bercampur dalam satu kelas. Siswa baik dan yang buruk menjadi satu. Memang benar selama di sekolah pengawasan cukup baik, untuk tak dikatakan buruk. Guru selalu masuk dalam jam pelajaran, walaupun di luar jam pelajaran aku bebas bergaul dngan siapa saja. Aku bisa bergaul dengan laki-laki atau perempuan, teman yang baik atau yang buruk. Tanpa pengawasan yang ketat. Aku hanya belajar di jam-jam sekolah. Selain jam-jam itu aku pergi ke manapun kusuka.

Sebaik-baik pengawasan di sekolah, pasti tak akan ada pengawasan di luar sekolah. Berpergian tanpa pengawas sangat membebaskanku. Mau pacaran, merokok, minum minuman keras, mengkonsumsi narkoba pun tak akan ada yang tahu, jika bukan karena laporan masyarakat atau karena kebodohanku.

Engkau tak memasukkan aku ke pondok pun sebenarnya tak apa-apa, karena itu bukan hal yang terpenting. Yang paling penting, engkau selalu mengawasiku, Paling tidak, atau bisa dikatakan seharusnya, engkau memperhatikan segala tindak-tandukku, perubahanku. Bukan hanya prestasi belajarku, tapi yang lebih penting lagi adalah kepribadianku.

Aku selalu berpikir, sebenarnya salahku apa? Bukankah ini semua dikarenakan engkau lebih memikirkan prestasi duniaku dibandingkan akhlaqku? Ingatlah, pernahkah engkau memarahiku ketika aku tak sholat? Pernahkah engkau memarahiku ketika aku bergandengan tangan dengan perempuan? Pernahkah engkau memarahiku ketika aku tidak pernah mengaji? Padahal, ketika nilaiku hanya lebih kecil sedikit, engkau memarahiku habis-habisan. Ketika aku gagal naik kelas engkau menamparku. Ketika aku tak lulus engkau menangisiku. Bukankah itu menunjukkan bahwa yang engkau cari adalah dunia, uang, bukan jati diriku, kepribadianku, akhlaqku.

Jadi sebenarnya aku tak pantas engkau marahi karena minum minuman keras, karena mengkonsumsi narkoba. Kenapa? Karena nilai-nilaiku tidak jelek, karena aku sudah pintar, karena aku sudah mendapatkan dunia. Bukankah itu tujuanmu menyekolahkaqn aku di luar. Minuman keras, narkoba, itu berhubungan dengan dosa, dengan akhirat. Jadi wajar saja bagiku jika aku melanggarnya. Itu kan bukan sebagai tujuanmu. Karena apa? Karena engkau menyekolahkanku di tempat yang merusak aku, bukan memintarkan aku. Karena engkau tak memikirkan akhiratku. 
Engkau merusakku ketika engkau menyekolahkanku di tempat yang salah. Tempat yang berpikiran dunia lebih penting dari pada akhirat. Mana buktinya? Lihatlah mata pelajaran harian. Pelajaran agama tidak lebih banyak, untuk tidak dikatakan sedikit, dibandingkan pelajaran umum.

Ayah, bunda, aku ingin baik. Jadi pilihkan bagiku sekolah yang baik.

Aku berduaan dengan perempuan. Aku memegang tangannya. Aku sering berboncengan dengannya. Menghabiskan uang dan waktu bersamanya.Tak ada sedikit pun rasa sesal di hatiku ketika melakukan hal itu. Tak ada.
Awalnya aku tak tertarik sedikitpun dengan hal-hal yang demikian. Tak ada secercik pun perasaan senang di hatiku ketika memikirkan hal-hal seperti itu. Namun semuanya berubah ketika aku mengenal benda itu.

Aku melihat tayangan-tayangan yang berbau "pacaran" di dalamnya. Tayangan-tayangan yang berisi drama cinta antara laki-laki dan perempuan.  Aku mulai tertarik menontonnya, mulai banyak menyisakkan waktu untuk mengikuti setiap adegan-adegan di dalamnya, mulai merasa dan berpikir bagaimana indahnya menjalani hidup seperti itu.

Awal kehancuran bagiku. Tak kusangka penyebab pertama kerusakan pribadiku disebabkan oleh benda kecil itu. Benda yang engkau bawa masuk ke dalam rumah dengan dalih sebagai hiburan. Benda yang engkau anggap memilikinya adalah sebuah keharusan. Benda yang engkau anggap lebih banyak manfaat dari pada mudharat di dalamnya.
Ternyata itu adalah perusak diriku.

Rubrik Ikhtitam

Minggu, 27 Maret 2011

KEUNGGULAN AJARAN ISLAM
(YANG BERSUMBER PADA AL-QUR’AN DAN HADITS)

Ajaran Islam memang tidak ada yang melebihi dari segi apapun, Islam memang benar-benar unggul dalam segala bidang dibanding dengan ajaran yang lainnya diseluruh muka bumi dari sejak diturunkannya hingga masa kini dan sampai akhir zaman. Berikut adalah beberapa bukti keunggulan Ajaran Agama Islam dibnding dengan ajaran yang lain :

Ö        Kita lihat Al-Qur'an yang menjadi pedoman hidup bagi muslimin tidak ada perobahan sama sekali, di manapun kita dapati tidak dinegara-negara muslim bahkan dinegara kafirpun Al-Qur'an tetap sama sebagaimana yang kita baca dan itu sesuai dengan sejak diturunkannya Al-Qur'an kepada Nabi saw. lantaran Malaikat Jibril. Dilihat dari bukti tersebut mana diantara ajaran selain Ajaran Islam yang kitabnya seutuh Al-Qur'an, sejak 14 abad yang lau tidak pernah kita dapati perubahan sdikitpun.

Ö        Kita dapati jutaan manusia santriwan, santriwati dan juga yang lainnya, mereka sama membaca, membaguskan bacaan dan bahkan menghafalkan akan Al-Qur'an dari generasi kegenerasi, sampai-sampai, jika terjadi mushaf Al-Qur'ah itu hilang dari muka bumi, tak akan hilang itu Al-Qur'an karena Allah swt. telah menjaganya lewat dada-dada hambanya yang tidak terkira berapa banyaknya.

Ö        Kita tahu mana hukum, dan undang-undang bikinan manusia yang mampu bertahan ratusan tahun dan tidak mengalami perobahan dan masih dipakai dari generasi kegenerasi. Semua manusia mengakui bahwa tidak ada satupun undang-undang bikinan manusia yang mampu bertahan dan tetap relevan dengan situasi dan kondisi, sebagaimana Al-Qur'an Karena Allah swt. menjaga akan keutuhan Al-Qur'an sampai datangnya hari kiamat sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya surat Al-Jihr (15) ayat 9 yang artinya : sesungguhnya kami (Allah) yang telah menurunkan Adz-Zdikr (Al-Qur'an), dan sesungguhnya kami yang menjaganya

Ö        Al-Qur'an adalah merupakan undang-undang dan hukum Islam, yang  tetap relevan dengan situasi dan kondisi, bertahan, tidak berubah dan tetap dijadikan hukum buat manusia di muka bumi, dimana kita tahu suatu negara disitulah ada sekelompok manusia yang menyatakan diri sebagai seorang muslim yang berpegang teguh kepada Al-Qur'an dan sunnah Rasulullah saw.

Dalam hal ini dunia telah mengakui, sebagaimana telah terjadi pada Konfrensi Internasional yang diselenggaran di Lahore pada tahun 1932 yang lalu, memutuskan untuk mengajukan usulan kepada PBB agar menjadikan syari'at Islam sebagai sumber Hukum Internasional, setelah para pakar hukum Internasional yakin akan keagungan syari'at Islam dan pengaruh positifnya terhadap ummat manusia pada zaman sekarang ini.

Ö        Kita tahu mana hukum dan undang-undang bikinan manusia yang mampu menyelesaikan problem hidup manusia dengan tuntas, tak satupun kita dapati dimuka bumi ini kecuali hukum dan undang-undang yang datang dari Allah dan Rasul-Nya, mana kitab undang-undang yang mampu menyelesaikan problem hidup manusia yang selama ini tak teratasi, seperti halnya :
1.      Korupsi yang telah menyebar luas diseluruh dunia, dengan berbagai macam cara telah dilakukan untuk menghilangkannya, hasilnya nihil. Korupsi tetap berjalan walaupun sangsi-sangsi telah menjerat mereka.

2.      Perzinaan dari sejak ribuan tahun yang lalu, berkembang sampai menjalar keberbagai lapisan masyarakat, tidak hanya dikota-kota besar namun tidak ketinggalan pula dipelosok-pelosok pedesaan, berbagai macam upaya untuk menanggulangi hal tersebut, tidak mampu membikin jeranya mereka, bahkan diahir-akhir ini semakin bertambah pesat perkembangan kemakiyaan perihal zina.

3.      Pembunuhan dan perampokan hampir setiap hari kita mendengar dan membaca lewat koran, majalah, radio dan tayangan TV.

4.      Kema'siyatan dari berbagai macam bentuk dan ragamnya semakin hari semakin bertambah nyata, seakan tak ada lagi yang mampu menghalangi terjadinya kemaksiyatan.

5.      Dekadensi moral bangsa melanda tidak hanya negara-negara kafir bahkan negara yang mengatas namakan Islampun tidak terlepas dari penyakit tersebut.

6.      Dan masih banyak lagi bentuk-bentuk kemaksiyatan yang tidak bisa dibendung.

Dari berbagai macan kemaksiayatan yang telah terjadi sebagaimana tersebut diatas bahkan lebih dari itu, Ajaran Islam mampu untuk menaggulanginya, karena Allahlah yang membikin dan Allahlah yang tahu akan problem yang akan terjadi pada manusia dan Allah tahu pula bagaimana cara mengatasinya, hal ini telah terbukti dimasa Rasulullah saw. dan para shahabat-Nya, mereka menggunakan Al-Qur’an sebagai pegangan hidup, ternyata mereka hidup rukun dan damai, jauh dibanding pada masa jahiliyah.

Sebelum datang Islam yang disampaikan Rasulullah saw. masa itu disebut dengan zaman jahiliyah, sebutan itu dikarenakan terlalu bodohnya orang yang tidak lagi menggunakan akal fikirannya, mereka berbuat sesuatu dengan mengikuti hawa nafsu dan keinginan belaka. Kebejatan moral masyarakat jahiliyah sudah diluar batas kemanusiaan apalagi diukur dari syari'at Islam jauh menyimpang sebagai contoh :

1.      Kebiasaan saling membunuh satu kelompok dengan kelompok yang lain, hanya perkara yang sepele. Peperangan antar suku, qabilah maupun daerah satu dengan yang lainnya biasa terjadi.

2.      Kebiasaan membunuh anak-anak perempuan, karena dianggapnya seorang perempuan tidak bermanfaat dan bahkan menjadikan beban hidup,

3.      Kebiasaan merampok, mencuri, menyamun dan berjudi.

4.      Kebiasaan berzina, perbuatan itu dilakukan menurut keinginan dan mengikuti hawa nafsu baik kepada tetangga, teman sebaya, yang sudah bersuami atau belum, yang masih kerabat atau tidak, asal mampu berbuat mereka lakukan dan bahkan tidak merasa ganjil jika sampai ketahuan orang lain.

5.      Kebiasaan meminum minuman keras, yang menyebabkan kurangnya akal dan menjadi rusak akhlaq mereka.
6.      Dan masih banyak lagi berbagai macam kemaksiyatan yang mereka lakukan, dalam skala yang kecil maupun yang besar.

Setelah Rasulullah saw. diutus oleh Allah menyampaikan wahyu-Nya, selama kurang lebih 23 tahun, Ajaran tersebut berhasil dengan ijin Allah, mengikis habis semua bentuk bentuk kemaksiyatan yang mereka lakukan, sampai-sampai dinyatakan bahwa shahabat Rasulullah saw, adalah sebagai generasi terbaik ummat ini. Demikian pula jika manusia yang hidup di zaman modern sekarang  ini memakai syari'at Islam sebagai pegangan hidupnya, Insya Allah, Allah pun akan memberikan jalan keluar dari semua problem yang membahayakan masyarakat.

Rubrik Konsultasi Syari'ah

KELUARGA SULIT DIAJAK BERBUAT KEBAIKAN

Assalamu 'Alaikum  wr.  wb.

Ustadz, saya ingin menanyakan tentang keadaan keluarga saya. Saya sebagai kepala rumah tangga yang selama ini telah berusaha sekuat tenaga untuk menjadikan baiknya isteri, dan anak-anak. Berbagai macam cara telah saya tempuh dan sanksipun telah saya sampaikan, namun tetap saja keluarga saya sulit diajak pada kebaikan, seperti halnya diajak sholat berjama'ah di masjid, isteri dan anak perempuan saya perintah agar memakai jilbab, diajak mengkaji Al-Qur'an dan yang lainnya. Tolong ustadz diberikan pemecahannya?
Suparjo, 085488797xxx

Wa'alaikum salam wr. wb.
Bapak Suparjo, semoga dibelas kasihani oleh Allah Ta'ala.
Berdasarkan usaha yang telah bapak lakukan, mestinya sudah benar dan membuahkan hasil, sebab seseorang tidak dibebani kecuali menurut kemampuan yang ada, namun kenyataannya masih nihil. Mudah-mudahan karena waktu saja yang Allah belum menampakkan hasil tersebut. Selain itu perlu diketahui bahwa seseorang yang diberi kemampuan berbuat kebaikan itu, karena adanya beberapa hal yang mendukungnya. Seperti halnya adanya lingkungan yang baik, banyak teman untuk melakukannya, ada contoh dalam melakukannya dan lain sebagainya.  Karena pada dasarnya manusia itu tidak mempunyai daya dan kekuatan untuk berbuat sesuatu kebaikan jika Allah tidak memberikan pertolongan. Untuk mendapatkan pertolongan Allah swt. selayaknya seorang hamba mengikuti akan petunjuk-Nya, sebagaimana yang disampaikan oleh Rasulullah saw. pada hadits berikut :

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ: إِنَّ اللهَ طَيِّبٌ لاَ يُقْبَلُ إِلاَّ طَيِّبًا, وَ إِنَّ اللهَ اَمَرَ الْمُؤْمِنِينَ بِمَا اَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِيْنَ فَقَالَ تَعَالَى يَاأَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوْا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَ اعْمَلُوْا صَالِحًا (المؤمنون : 51) وَ قَالَ تَعَالَى يَااَيُّهَاالَذِيْنَ اَمَنُوْا كُلُوْا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ. (البقرة: 182) ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلُ يُطِيْلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ اَعَبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ اِلَى السَّمَاءِ يَا رَبِّ يَا رَبِّ وَ مَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَ مَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُدِيَ بِالْحَرَامِ فَأَنَّ يُسْتَجَابُ لَهُ

Dari Abu Hurairah  ra. Berkata, bersabda Rasullulah saw : “ sesungguhnya Allah itu baik tidak menerima kecuali yang baik, dan sesungguhnya Allah memerintahkan kepada orang-orang beriman sebagaimana memerintahkan kepada para Rasul, Firman Allah Ta’ala : 
wahai para Rasul makanlah kalian dari (barang) yang baik dan beramal shalihlah kalian (surat Al-Mukminun ayat 51) dan Firman Allah Ta’ala : wahai orang-orang yang beriman makanlah kalian dari (barang) yang baik, apa yang Kami telah rezqikan kepada kamu kalian (surat Al-Baqarah ayat 182), 
kemudian Rasulullah saw. menyebutkan tentang seseorang yang jauh safarnya, kusut rambutnya, berdebu seraya memanjangkan kedua tangannya kearah langit dan berdo’a ya rabbi ya rabbi, sedang makanannya (dari makanan yang) haram, minumannya (dari minuman yang) haram, pakaiannya (dari pakaian yang) haram, dan dibesarkan dari barang yang haram, maka bagaimana diijabahi untuknya. (HR. Imam Muslim)

Dari hadits diatas dapatlah diambil pelajaran bahwa Allah adalah dzat yang baik dan mencintai pada kebaikan,  Allah swt. tidak senang pada yang jelek dan menolak perbuatan yang jelek pula. Allah swt. memerintahkan kepada orang orang yang beriman sebagaimana Allah telah memerintahkan kepada para utusan-Nya. Mereka disuruh untuk memakan dari barang barang yang baik dan beramal yang baik pula. Allah swt. tidak akan mengijabahi do’a orang-orang yang bergelimang dengan barang yang haram, walaupun mereka berdo’a diwaktu dan tempat yang ijabah, Allah tetap tidak mengijabahi untuknya.

Dari adanya riwayat hadits yang disampaikan oleh shahabat Abu Hurairah tersebut, hendaklah kita menyadari bahwa untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang baik, kita akan terhalang /berat dalam melakukannya, jika kita tidak dapat meninggalkan barang-barang yang haram, untuk itu keluarga yang berat melakukan kebaikan jangan-jangan masih langganan barang yang haram, baik dari hal makan, minum, berpakaian, serta segala sesuatu yang menjadikan diri dan keluarganya hidup dari barang yang haram.

Jika benar, hendaklah dibersihkan/ditinggalkan terlebih dahulu, dan hendaklah dicoba dan dijalani langkah-langkah berikut ini   :
Ø  Bertaubat dari segala dosa yang pernah dilakukannya, serta memperbaiki amalan-amalan dengan cara mencontoh suri tauladan Rasulullah saw.
Ø  Selalu memanjatkan do’a kepada Allah swt akan kebaikan diri dan keluarganya dan selayaknya dalam berdo’a hendaknya mencari tempat/waktu yang ijabah
Ø  Memberikan contoh kebaikan kepada keluarganya, jangan hanya sekedar memerintah saja sedang kita tidak melakukannya, karena Allah murka kepada orang yang hanya memerintahkan saja tapi tidak berusaha melakukannya
Ø  Menghindarkan diri dari barang-barang yang haram baik untuk makan, minum, pakaian, tempat tinggal dan segala sesuatu yang dibutuhkan diri dan keluarganya
Ø  Bersabar dan istiqamah dalam bekerja dan beramal sholeh, berusaha sekuat tenaga dalam mencari rezqi yang halal, menghindarkan diri dari barang yang harom.

Semua orang mempunyai keinginan agar diri dan keluarganya dalam keadaan baik dan selalu mendapat perlindungan Allah ta’ala, dan juga seesorang menyadari akan kelemahan dirinya dan meyakini bahwa hanya kepada Allahlah yang dapat menolongnya. Karena itu bapak tinggal pilih :
Ø  Menggunakan barang barang yang serba haram, yang akhirnya semua amalan dan do’a ditolak oleh Allah berdasarkan hadits diatas, dan menjadi penyabab beratnya mengerjakan kebaikan
Ø  Menahan hawa nafsunya, dan berusaha sekuat tenaga menjauhkan diri dan keluarganya dari barang yang haram, dengan harapan akan mendapatkan pertolongan Allah setiap saat.


Rubrik Fiqih Wanita

Jumat, 25 Maret 2011
MAR'ATUSH SHOOLIHAH
PEREMPUAN DAMBAAN SUAMI

Seorang ibu hendaknya bercita-cita dan berusaha sekuat tenaga untuk menjadi seorang perempuan yang "Mar'atush shoolihah", karena dengan sebab itulah seorang ibu akan bahagia hidup didunia dan akhirat, dan dengan sebab itu pula akan menjadi baiknya diri dan orang lain

Sabda Rasulullah saw

عَنْ أَبِي أُمَامَةَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى الله ُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ كَانَ يَقُوْلُ مَا اسْتَفَادَ الْمُؤْمِنُ بَعْدَ تَقْوَى الله ِ خَيْرًا لَهُ مِنْ زَوْجَةٍ صَالِحَةٍ إِنْ أَمَرَهَا أَطَاعَتْهُ وَإِنْ نَظَرَ إِلَيْهَا سَرَّتْهُ وَإِنْ أَقْسَمَ عَلَيْهَا أَبَرَّتْهُ وَإِنْ غَابَ عَنْهَا نَصَحَتْهُ فِي نَفْسِهَا وَمَالِه 

Dari Abi Umamah dari Nabi r bahwasannya adalah beliau bersabda : Tidak ada yang lebih bermanfaat dan yang lebih baik bagi seorang mukmin sesudah taqwa kepada Allah dari pada seorang isteri yang shoolihah, jika suami memerintahnya, dia mentho'atinya, dan jika suami melihat kepadanya menyenangkan nya, dan jika suami bersumpah atasnya dia menjalaninya dengan baik dan jika suami pergi darinya dia menjaga dirinya dan hartanya (H.R. Imam Ibnu Majah K.Nikah hadits no.1847, dan An-Nasai)

عَنْ عَبْدِ الله ِ بْنِ عَمْرٍو أَنَّ رَسُوْلَ الله ِ صَلَّى الله ُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّمَا الدُّنْيَا مَتَاعٌ وَلَيْسَ مِنْ مَتَاعِ الدُّنْيَا شَيْءٌ أَفْضَلَ مِنَ الْمَرْأَةِ الصَّالِحَةِ 

Dari Abdullah bin 'Amr bahwasannya Nabi r bersabda Sesungguhnya tiada lain dunia itu kesenangan dan tidak ada kesenangan dunia itu sesuatu yang lebih baik dari Mar'atus Shoolihah (H.R. Imam Ahmad, Muslim, Nasai dan Ibnu Majah K.Nikah hadits no.1845)

Seorang perempuan dikatan sebagai isteri yang mart'atus shoolihah jika mereka mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :
1.      jika suami memerintahnya, dia mentho'atinya,
2.      jika suami melihat kepadanya menyenangkannya,
3.      jika suami bersumpah atasnya dia menjalaninya dengan baik
4.      jika suami pergi darinya dia menjaga diri dan hartanya

Mari kita perhatikan hadits diatas yang menggambarkan seorang perempuan yang mar'atush shoolihah dan kita bandingkan dengan keadaan keluarga kita masing-masing baik kita seorang suami atau seorang isteri

Mar'atush shoolihah adalah merupakan bekal hidup seorang mukmin yang lebih baik dibanding dengan harta kekayaan apapun karena Mar'atush Shoolihah akan selalu menolong suaminya pada perkara-perkara akhirat.

Mar'atush shoolihah akan menjadikan keluarga sakinah, mawaddah warrahmah, tentram damai sepanjang masa karena  : 
1.      Mar'atus shoolihah selalu tunduk dan patuh atas semua perintah suami apapun ujudnya termasuk perkara-perkara yang memberatkan, meringankan, menyusahkan, atau menyenangkan tidak menjadikan hambatan/ganjalan buat Mar'atus shoolihah untuk melakukannya, karena Mar'atus shoolihah meyakini bahwa segala perintah suami selagi tidak ma'siyat kepada Allah dan Rasul-Nya wajib buat dirinya melakukannya
2.      Mar'atus shoolihah selalu menyenangkan setiap kali dilihat oleh suaminya baik dalam kondisi senang atau susah, sakit atau sehat, terpaksa atau longgar tetap saja menyenangkan, selalu menampakkan wajah yang berseri-seri dihadapan suami, karena perempuan shoolihah menyakini bahwa mencari ridlo suami adalah merupakan jalan kebahagiaan dirinya dihari akhir. Mar'atus shoolihah menyakini bahwa perbuatan baik sekecil apapun tetap dianggap kebaikan dan akan  dibalas kebaikan oleh Allah swt., dengan sebab keyakinan itulah Mar'atus shoolihah tidak keberatan membuat senangnya suami disetiap saat
3.      Mar'atus shoolihah selalu menjaga diri, anak-anak dan harta suaminya tatkala ditinggal pergi, Mar'atus shoolihah tidak akan menyia-nyiakan kesempatan kecuali berbuat kebaikan untuk akhirat. Untuk itu tidak ada modelnya Mar'atus shoolihah tatkala ditinggal pergi suaminya menggunakan kesempatan berbuat maksiyat dan menghambur-hamburkan harta suami dengan berbagai macam alasan, karena Mar'atus shoolihah menyadari bahwa setiap perbuatan maksiyat dan penyimpangan akan kembali pada dirinya sendiri, dengan keyakinan tersebut Mar'atus shoolihah tidak akan terbesit dalam hatinya sedikitpun untuk berbuat makasiyat kepada suami tatkala ditinggal pergi

Dari gambaran yang demikian itu hendaknya seorang isteri menyadari sudahkah saya menjadi seorang isteri yang mar'atus shoolihah? Jawabnya : Sudah adakah ciri-ciri mar'atush shoolihah sebagaimana disebutkan oleh Rasulullah saw atau belum, jika belum hendaknya di usahakan sekuat tenaga agar menjadi seorang isteri yang Mar'atus shoolihah. Begitu pula seorang suami sudahkah memiliki seorang isteri yang Mar'atus shoolihah?, kalau belum kewajiban seorang suami untuk mendidik dan memberikan pengarahan kepada isterinya agar menjadi Mar'atus shoolihah.

Dilihat dari sisi lain hadits diatas menunjukkan kepada kita betapa adilnya Allah swt. kepada hamba-Nya kaum hawa, kita semua menyadari bahwa perempuan adalah termasuk makhluk yang lemah, baik dari segi fisik maupun akal fikirannnya dibanding dengan kaum laki-laki pada umumnya.  Akan tetapi karena besarnya belas kasih Allah kepada hamba-Nya kaum hawa, Allah swt. berkenan memberikan jalan keluar bagi mereka untuk menghadapi berbagai macam type kaum laki-laki yang mendampinginya

Banyak kita saksikan diberbagai lapisan masyarakat, sejak zaman dahulu hingga sekarang dan tidak bisa dipungkiri keberadaan mereka. Banyak kita temukan perempuan perempuan yang lemah tidak berdaya mendampingi seorang laki-laki yang mempunyai berbagai macam karekter, dan kebiasaan, diantaranya : seorang suami yang kasar, bengis, ringan tangan, kaya raya, kuasa, diktator, egois, pendiam, bicara dan masih banyak lagi type-type seorang suami yang serba menakutkan dan menyeramkan.

Dengan modal sebagai isteri Mar'atus shilihah, siapa diantara kaum laki-laki yang tidak luluh hatinya, baik yang bertype apapun diantara mereka dengan adanya seorang isteri yang selalu tunduk dan patuh serta menyenangkan setiap dipandang belum lagi jika ditinggal pergi selalu amanah, dapat menjaga dirinya, anaknya dan harta suaminya.

Dari kenyataan tersebut diatas membuktikan kepada  kita bahwa Mar'atush shoolihah yang telah diberikan modal oleh Allah swt. dan Rasul-Nya dengan sifat-sifat tersebut tidak harus pesimis menghadapi suami, walaupun dirinya mempunyai banyak kekurangan dalam menghadapi suami yang mempunyai berbagai macam type dan seorang isteri pendamping suami tidak harus  :
1.      berparas cantik
karena kecantikan seorang perempuan akan menjadikan jengkelnya seorang suami, disaat isteri tidak mau tunduk dan patuh kepadanya
2.      kaya raya
karena kekayaan seorang perempuan bisa jadi sebab isteri memperbudak seorang laki-laki yang akhirnya suami tidak mampu mengendalikan isteri dalam kebaikan
3.      cerdik cendikia
karena kepandaian seorang perempuan bisa jadi sebab pesimis dan mindernya suami dihadapan manusia yang akhirnya tidak mampu menjalani tugas sebagai suami
4.      berkuasa/mempunyai status
karena seorang perempuan yang mempunyai kekuasaan menjadi penghalang bagi dirinya untuk tunduk dan patuh kepada suami, apalagi seorang isteri yang mempunyai rasa merendahkan suami
5.      karier
karena seorang perempuan karier malah justru menjadikan suami takluk dihadapannya dan menjadikan suami tidak lagi menduduki seorang pemimpin malah dipimpin

Dari gambaran tersebut menunjukkan kepada kita bahwa manusia mempunyai banyak kelemahan dalam menghadapi problematika hidup berumah tangga. Karena itu hendaknya suami isteri menempatkan diri dimana posisi yang sebenarnya. Seorang isteri mestinya dipimpin tidak memimpin, begitu pula seorang suami mestinya memimpin tidak dipimpin.

Orang beriman harus yakin bahwa dimana dan kapan saja manusia menjauh dan meninggalkan aturan Allah dan Rasul-Nya disitulah saatnya datang kehancuran yang tidak bisa dielakkan, jika tidak sepontan didunianya jangan tanya akan selamat dihadapan Allah swt. saat bertemu di makhsyar

Kehancuran suatu negara, bangsa, daerah, kampung, tidak ketinggalan rumah tangga muslim maupun non muslim, siapapun yang menjadi pimpinannya akan berantakan dan kacau balau jika tidak menundukkan diri dengan memakai aturan Allah dan Rasul-Nya. Dari sebab itulah, sepantasnya setiap orang beriman menyadari dan memaksakan dirinya untuk mengikuti aturan Allah dan Rasul-Nya. Suami isteri seharusnya bekerja sama untuk mewujudkan aturan Allah dan Rasul-Nya dalam kehidupan sehari-hari.

Untuk mewujudkan cita-cita itu semuanya suamilah yang mempunyai tanggung jawab yang lebih besar. Seorang suami mempunyai kewajiban untuk mendidik dan mengajarkan kepada isteri dan anak-anaknya agar mereka benar-benar memahami ajaran Islam berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah r

Kalau kita mengingat sejarah siapa diantara kaum muslimin yang tidak mengakui  kebaikan para shahabat Rasulullah r, tak seorangpun diantara mereka yang menyangkal kebaikannya bahkan semua muslimin mengakui generasi manusia terbaik adalah generasi para shahabat, dan tidak ada yang menyamai kebaikan mereka

Jika ditanyakan :
kenapa mereka dikatakan sebaik-baik generasi manusia?, karena mereka hidup dibawah naungan wahyu dan mereka mendapatkan contoh suri tauladan yang baik pada diri Rasulullah saw. Jadi dari kenyataan tersebut menunjukkan kepada kita bahwa jika seseorang mampu menjalani Ajaran Islam sesuai dengan tuntunan Al-Qur'an dan sunnah Rasulullah saw Allah akan memberikan kepada mereka kebaikan hidup didunia dan akhirat.


Rubrik Resensi Buku

SAMUDRA ILMU-ILMU AL-QUR‘AN

Kitab ini berjudul Mabahits fi ‘Ulum Al-Qur`an, yang artinya beberapa pembahasan tentang ilmu-ilmu Al-Qur`an. Sesuai dengan judulnya, kitab ini berisi tentang berbagai hal yang berhubungan dengan ilmu-ilmu Al-Qur`an. Pengarang kitab Mabahits fi ‘Ulum Al-Qur`an adalah Manna’ Khalil Al-Qaththan, beliau adalah ahli tafsir dan fikih dari Mesir serta Direktur Sekolah Tinggi Hukum yang bertempat di Riyadh. Kitab Mabahits fi ‘Ulum Al-Qur`an diterbitkan tahun 1973 M/1393 H oleh penerbit Mansyurat Al-‘Ashr Al-Hadits. Dan ini merupakan cetakan yang ketiga. Kitab Mabahits fi 'Ulum Al-Qur`an mempunyai ketebalan yang terdiri dari 400 halaman dengan ukuran panjang 24 cm dan lebar 16 cm. Kitab ini termasuk kitab yang lebih ringkas jika dibandingkan dengan kitab Al-Itqan fi 'Ulum Al-Qur`an karya Jalaluddin As-Suyuthi Asy-Syafi’i dan Al-Burhan fi 'Ulum Al-Qur`an karya Bahruddin Muhammad bin Abdillah Az-Zarkasyi.

Secara umum kitab Mabahits fi ‘Ulum Al-Qur`an, berisi pembahasan tentang pengertian ilmu Al-Qur`an, pengertian Al-Qur`an, pengertian wahyu, pengertian al-makiyah dan al-madaniyah, sebagian turunnya ayat, cara Al-Qur`an diturunkan, nasikh dan mansukh, mutlaq dan muqayyad, permisalan-permisalan dalam Al-Qur`an, sumpah-sumpah dalam Al-Qur`an, pengertian terjamah Al-Qur’an, pengertian tafsir dan ta’wil, pembicaraan tentang mufassir, pembicaraan tentang pertumbuhan dan perkembangan tafsir, serta pembicaraan tentang kitab-kitab tafsir yang masyhur.

Sedangkan secara rinci kitab ini terdiri atas 26 bagian, adapun pembahasannya antara lain: Bagian pertama-ketiga berisi penjelasan tentang pengertian ilmu dan pertumbuhannya serta perkembangannya, pembahasan tentang Al-Qur`an, ta'rifnya, nama-nama Al-Qur`an, perbedaan Al-Qur`an dengan hadits qudsi dan hadits nabawi, pembahasan tentang wahyu,, makna wahyu, cara Allah mewahyukan kepada malaikat-Nya,  cara Allah mewahyukan kepada para Rasul-Nya.

Bagian keempat-ketuju berisi tentang ayat makiyah dan madaniyah. Penyusun juga menjelaskan tentang faedah ilmu makiyah dan madaniyah, selain itu juga disebutkan ayat yang pertama dan terakhir turun serta faedah-faedahnya, ababun-nuzul (sebab turunnya ayat), turunnya Al-Qur`an secara langsung dan berangsur-angsur serta hikmah turunnya ayat secara berangsur-angsur. Pengarang menjelaskan bahwa turunnya Al-Qur`an ada dua tahap: pertama, dari Lauh Mahfudh ke Bait Al-‘Izzah di langit dunia pada malam lailah al-qadar. Kedua, Al-Qur`an diturunkan dari langit dunia ke bumi secara berangsur-angsur dalam waktu 23 tahun.

Bagian kedelapan-kesepuluh berisi tentang pengumpulan Al-Qur`an dan penyusunannya, mulai dari masa Rasulullah saw, Abu Bakar Ash-Shidiq, dan masa ‘Utsman bin 'Affan. Selain itu juga berisi tentang turunnya Al-Qur`an dengan tujuh huruf. Dalam masalah ini ulama berselisih tentang maksud tujuh huruf, antara lain adalah sebagian mereka ada yang mengatakan bahwa tujuh huruf adalah tujuh bahasa dari bahasa-bahasa Arab dengan satu makna dan ada yang mengatakan tujuh bacaan. Qiraat dan qurra` juga tak luput dari pembahasan dalam kitab ini.

Bagian kesebelas-keenam belas berisi tentang qaidah-qaidah yang harus diketahui oleh mufassir, segala hal yang berkaitan dengan ayat muhkam dan mutasyabih, 'am (umum) dan khash (khusus), nasikh dan mansukh, muthlaq dan muqoyyad, serta manthuq dan mafhum.

Bagian ketujuh belas-kesembilan belas berisi tentang kemu'jizatan Al-Qur`an, permisalan-permisalan dalam Al-Qur`an, sumpah-sumpah dalam Al-Qur`an, cerita-cerita yang terdapat dalam Al-Qur`an, dan terjamah Al-Qur`an.

Bagian kedua puluh-dua puluh tiga berisi pembahasan tafsir dan ta'wil, syarat-syarat untuk menjadi seorang mufassir, tumbuh kembangnya ilmu tafsir, penafsiran bil-ma`tsur dan penafsiran bir-ra`yi.

Kitab ini diakhiri dengan bagian kedua puluh enam yang membahas tentang biografi singkat ulama' tafsir yang masyhur, antara lain adalah Ibnu Abbas, Mujahid bin Jibr, Ath-Thabari, Ibnu Katsir, Fahruddin Ar-Razi, Az-Zamakhsyari, dan Asy-Syaukani.

Lengkap rasanya ilmu-ilmu Al-Qur‘an dengan terbitnya kitab ini. Jauh memang jika dibandingkan dengan kitab karangan pendahulunya, yaitu Kitab Al-Itqan karangan Imam As-Suyuti dari segi kelengkapan maupun kualitas. Akan tetapi yang membuat kitab ini cukup berbobot adalah karena penyusun kitab ini cukup mahir dalam hal sistematika penulisan suatu kitab, sehingga pembaca modern cenderung betah membaca dengan sistimatikanya. Tidak seperti kitab pendahulunya yang cenderung monoton dalam sistematika penulisan, kalau boleh digambarkan seperti gerbong kereta yang terus bersambung. Selain itu kitab Mabahist fi Ulumil Qur‘an ini juga banyak merujuk dan menginduk kepada kitab-kitab sejenis yang tidak diragukan lagi kualitasnya, selain kitab Al-Itqan fi ‘Ulum Al-Qur`an, penyusun juga merujuk kepada Kitab Al-Burhan fi ‘Ulum Al-Qur`an karangan Imam Az-Zarkasyi, Minhajul Furqan fi ‘Ulumil Qur‘an karangan Imam Muhammad Ali Salamah, Muqaddimah fi Ushulit Tafsir karangan Imam Ibnu Taimiyah dan kitab Tafsir wal Mufassirun karangan Imam Muhammad Husain Adz-Dzahabi yang terkenal itu.

Terakhir, buku ini sangat pantas untuk dijadikan referensi dalam masalah ilmu-ilmu Al-Qur‘an selain karena cukup lengkap isinya dan ringkas pembahasannya, kitab ini juga juga memiliki sitematika yang baik.


Rubrik Khutbah Jum'at




GODAAN IBLIS LAKNATULLAH

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ.
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا.
يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا.
أَمَّا بَعْدُ؛ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَّرَ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah
Pertama-tama marilah kita panjatkan syukur kepada Allah yang telah melimpahkan taufiq, hidayah dan inayah-Nya kepada kita semua, dengan bersyukur kepada Allah, Allah akan menambah nikmat-Nya. Demikian juga marilah kita tingkatkan taqwa kita kepada Allah, karena dengan  takwallah,  kita akan terhindar dari murka dan adzab Allah.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah
Kehidupan dunia ini adalah kehidupan yang penuh dengan pergolakan-pergolakan yang maha dahsyat karena melibatkan seluruh makhluk. Pergolakan panjang yang tiada berakhir hingga manusia mati menghadap Allah. Pergolakan yang bengis dan sadis karena telah memakan trilyunan korban tanpa rasa belas kasih. Itulah pergolakan iblis dengan manusia. Bukankah semenjak iblis membangkang terhadap perintah Allah untuk bersujud kepada Adam ia lalu memproklamirkan diri untuk menjerat manusia ke jurang Jahannam? Sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an : (yang artinya) Iblis berkata : “Wahai Rabbku, oleh sebab engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi dan pasti aku akan menyesatkan mereka semua.” (Al-Hijr: 39). Dan Iblis berkata: “Demi kekuasan-Mu aku akan sesatkan mereka semua, kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis di antara mereka.” (Shad: 82-83)

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah
Iblis laknatullah, teramat lihai dan cermat melihat celah celah untuk menggoda manusia, apalagi ada pintu terbuka untuk ikut berperan serta yaitu kecenderungan nafsu untuk berbuat jahat. Tidakkah manusia punya syahwat kepada wanita, anak, harta benda dan perkara perkara duniawi?. Bukankah nafsu cenderung berbuat menyimpang dari yang haq?  Pembenaran dalam hal ini sebagaimana difirmankan Allah dalam Al-Qur'an berikut  (yang artinya) “Dijadikan indah dalam (pandangan) manusia cinta kepada apa-apa yang diingini. yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, sawah dan ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allahlah tempat kembali yang baik (Surga).” (Ali Imran: 14).

Dan firman Allah yang lain (yang artinya) “Dan aku tidak membebaskan diriku dari kesalahan karena sesungguhnya nafsu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Rabbku. Sesungguhnya Rabbku Maha Pengampun dan Maha Penyayang.” (Yusuf: 53).

Dari adanya syahwat itulah yang dibangkitkan oleh iblis laknatullah kepada manusia.
1.      Seorang suami tidak terlarang mencintai istri dan sebaliknya, akan tetapi iblis membuat manusia buta dalam bercinta.
2.      Tidak terlarang manusia cinta pada anaknya tetapi iblis membuat manusia lalai dari penciptanya.
3.      Tidak terlarang seseorang mencintai harta yang banyak, akan tetepi dengan banyaknya harta, Iblis membuat manusia tidak bersyukur kepada Allah
4.      Seorang tidak terlarang mencintai rumah sebagai tempat tinggal yang bagus lagi indah akan tetapi dengan indahnya tempat tinggal, Iblis menjadikan manusia lupa akan kewajibannya mencari kebaikan diakhirat.
5.      Dan masih banyak lagi, hal-hal yang baik lagi halal untuk dinikmati, akan tetapi dengan adanya syahwat, Iblis menjadikan kebanyakan manusia tergelincir karenanya.

Akhirnya manusiapun tergila-gila kepada wanita, harta, tempat tinggal, anak dan yang lainnya. Kalau sudah demikian mereka jadi tawanan iblis kecuali orang-orang yang dibelas kasihani Allah. Mereka itulah orang orang yang dijaga oleh Allah, hingga dengan cepat sadar dan kembali ke jalan yang lurus tatkala mendapat bujuk rayu syaethon.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah
Rasulullah saw telah mengingatkan kepada kita tentang fitnahnya wanita, dunia, sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut :
عَنْ أَبِى سَعِيدٍ الْخُدْرِىِّ عَنِ النَّبِىِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ وَإِنَّ اللَّهَ مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيهَا فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُونَ فَاتَّقُوا الدُّنْيَا وَاتَّقُوا النِّسَاءَ فَإِنَّ أَوَّلَ فِتْنَةِ بَنِى إِسْرَائِيلَ كَانَتْ فِى النِّسَاءِ
Dari Abi Sa’id Al-Khudzriyyi dari Nabi saw. bersabda : Sesungguhnya dunia itu manis, hijau dan sesungguhnya Allah menjadikan kamu sekalian kholifah padanya, lantas Allah akan melihat bagaimana kalian beramal. Maka takutlah kalian terhadap dunia dan takutlah kalian terhadap wanita karena sesungguhnya fitnah yang pertama kali menimpa bani Israil adalah disebabkan oleh wanita.” (HR. Imam Muslim).

Tak terhitung berapa banyak korban yang telah tergelincir karena fitnahnya wanita. Syaethon amat cerdik dalam memperalat kaum wanita. Kaum wanita dijadikan oleh Iblis, sebagai jerat yang menggiurkan dan menggelincirkan kaum lelaki ke jurang kemaksiatan. Digerakkanlah kaum wanita agar keluar rumah, agar wanita berpenampilan indah, mengobral aurat dan terlihat seksi, hingga mampu memanah hati kaum lelaki. Hasilnya, luar biasa, banyak kaum lelaki yang muda maupun yang tua terjebak ke lembah kenistaan, gara-gara wanita

Dunia pun digelar, diramu dan dipermak indah. Nampak bagai taman hijau penuh kesejukan. Dan mulailah hati manusia disihir dengan kilauan dunia oleh bujuk rayu Iblis. Hasilnya manusia berbondong-bondong dan berlomba-lomba meraih dunia. Jadilah manusia meninggalkan agamanya, mereka memburu dunia dan wanita, sebagai puncak keni'matan hidup.

Kalau kita perhatikan dalam kehidupan dunia ini, kebanyakan manusia acuh terhadap agamanya tetapi tentang dunia mereka ambisi, gelar kesarjanaan pun ditumpuk untuk meraih dunia, kedudukan dan banyaknya harta dijadikan ukuran mulia dan tidaknya seseorang, Sedang orang yang tekun terhadap agamanya, dituduh kolot dan tidak tahu perkembangan zaman.  Begitu pula bursa seks digelar hampir disetiap kota bahkan merambah ke pelosok-pelosok desa, sekedar memuaskan lelaki hidung belang dan guna merusak para remaja .

Syubhat, merupakan senjata yang ampuh untuk mengacau akal fikiran manusia. Dengan syahwat manusia ragu terhadap kebenaran agamanya. Dan paling banyaknya orang yang tergelincir, rayuan syaethon terhadap syahwat ini adalah orang orang yang bodoh tentang agama.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah
Contoh : saat syaethon menggoda kepada Adam as, syaethon berkata: (yang artinya) “Rabb kamu tidak melarangmu dari mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang yang kekal (dalam Surga)”.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah
Ini merupakan kelihaiann iblis dalam menggoda manusia. Hanya saja Adam masih termasuk jenis hamba yang dirahmati Allah, karena keduanya segera bertaubat

Yang lain, syaethon bisikan dalam pikiran pelaku bid’ah untuk menambah dan mengurangi dalam soal agama. Akhirnya dengan pikiran syaethon inilah bid’ah semakin berkembang dan bertambah besar. Padahal mestinya muslimin ingat akan ayat Allah (yang artinya)  “Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam jadi agamamu.” (Al-Maidah:3)

Rasulullah saw bersabda : (yang artinya) “Barangsiapa yang beramal dengan suatu amalan bukan dari perkara (agama) kami, maka tertolak.” (HR. Imam Muslim).

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah
Itulah sekelumit uraian godaan-godaan yang dirancang oleh iblis dan syaethon. Semoga Allah selamatkan kita dari itu semua.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِيِمْنَ من كل ذنب. فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Khutbah kedua
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَرَ فَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى عَنْهُ وَحَذَّرَ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. صَلاَةُ اللهِ وَسَلاَمُهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah
Pada khutbah saya ingatkan akan firman Allah (yang atinya) “Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan akupun telah menjanjikan kepadamu tetapi aku menyalahinya. Sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan (sekedar) aku menyeru kamu lalu kamu mematuhi seruanku. Oleh sebab itu janganlah kamu mencerca seruanku tetapi cercalah dirimu sendiri. Aku sekali-kali tidak dapat menolongmu, dan kamu pun sekali-kali tidak dapat menolongku. Sesungguhnya aku tidak membe-narkan perbuatanmu mempersekutukan aku (dengan Allah) sejak dahulu.” (QS.Ibrahim: 22).

Iblis hanya sekedar mengajak, merayu, mengobral janji. Dan Iblis tak punya kemampuan apapun selama manusia bergantung kepada Allah. yakni berpegang teguh kepada kitabullah dan sunnah Rasul-Nya.

Mudah-mudahan Allah menyelamatkan kita seluruhnya dari perbuatan maksiyat, dan marilah kita tutup khutbah ini dengan memanjatkan do'a kepada Allah bagi kita dan kaum muslimin seluruhnya.
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ. اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ مِنَ الْخَيْرِ كُلِّهِ مَا عَلِمْنَا مِنْهُ وَمَا لَمْ نَعْلَمْ، وَنَعُوْذُ بِكَ مِنَ الشَّرِّ كُلِّهِ مَا عَلِمْنَا مِنْهُ وَمَا لَمْ نَعْلَمْ. اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ مَا سَأَلَكَ بِهِ عِبَادُكَ الصَّالِحُوْنَ، وَنَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا اسْتَعَاذَ بِكَ مِنْهُ عِبَادُكَ الصَّالِحُوْنَ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّا عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيتَآئِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.