1. PENTINGNYA BELAJAR DAN BERAMAL
SESUAI SUNNAH
Manusia yang oleh Allah Ta'ala telah diberikan kelebihan akal fikir dibanding dengan makhluk yang lain akan tetapi kemampuan akal manusia terbatas, tidak mampu memecahkan problem yang hidup yang dihadapinya. Banyak dikalangan orang-orang yang dianggap cerdik cendikiawan malah kembali kedukun dalam menyelesaikan masalahnya, mereka banyak yang bunuh diri karena beratnya beban yang dihadapi, mereka banyak yang stres karena menghadapi masalah-masalah yang sepele dan lain sebagainya
Kemampuan manusia dengan akalnya itu lemah dan terbatas, sebagai gambaran jika ada orang yang mengucapkan salam diluar rumah, apa yang kita bisa fikirkan? paling sekedar tahu ada orang diluar rumah mengucapkan salam itu saja, sedang kemampuan akal tidak mampu menjelaskan yang sebenarnya : siapa dia, dari mana, berapa besar, berapa tingginya, apa warna kulitnya, berapa yang datang, apa yang dibawa, laki atau perempuan, berapa umurnya dan yang lainnya, dengan itu semua menunjukkan bahwa akal fikir manusia tidak mampu memberikan gambaran secara kongkrit
Dari kenyataan itu semua menunjukkan bahwa manusia yang dikatakan mempunyai keunggulan dari makhluk yang lain itu saja tidak mampu menyelesaikan problemnya sendiri apalagi untuk menyelesaikan problem orang/makhluk yang lainnya. Untuk itu manusia perlu mendapatkan bimbingan dan petunjuk
Semua manusia mengatahui dan menyadari bahwa alam raya ini ada yang menciptakan, ada yang memelihara, ada yang mengatur dan ada yang memberi petunjuk kepada setiap makhluk, walaupun manusia berbeda-beda dalam penyebutannya siapa yang dianggap berkuasa dan mengatur alam raya ini, orang beriman yakin bahwa dia itu tiada lain kecuali Allah Dzat Yang Maha Kuasa
Sebagaimana Firman Allah dalam Al-Qur'an menyebutkan :
الَّذِي خَلَقَ فَسَوَّى وَالَّذِي قَدَّرَ فَهَدَى
Dialah (Allah dzat) yang menciptakan dan menyempurnakan (penciptaan-Nya), dan (Dialah Allah dzat) yang menentukan kadar (masing-masing) dan (Dialah Allah dzat) yang memberi petunjuk (Al-Qur'an Surat Al-A'laa (87) ayat 2-3)
Dari ayat tersebut diakui atau tidak menunjukkan bahwa Allahlah Dzat Yang menciptakan dan memberi petunjuk kepada manusia, jadi manusia hidup tanpa petunjuk dari Allah tidak akan mampu menjadikan dirinya baik, baik menurut ukuran manusia apalagi menurut ukuran AllahTa’ala
Datangnya rasul ujud belas kasih allah
Belas kasih Allah kepada manusia memang terlalu banyak, tidak bisa dihitung. Anda bisa bayangkan, untuk menjaga keselamatan diri manusia ini, Allah swt. telah memberikan berbagai macam bekal dalam hidupnya : akal fikiran, perasaan, mata, telinga, hidung, tangan, kaki, dan yang lainnya yang kesemuanya itu dapat saling membantu menjadikan baiknya diri manusia itu sendiri dalam menjalani kehidupan
Akan tetapi pemberian Allah kepada manusia yang tidak terhingga itu, oleh Allah swt. masih dikatakan kecil, dan walaupun manusia diberi dunia seisinya untuk diri sendiri. Karena nikmat Allah yang paling besar yang diberikan kepada manusia adalah nikmat Iman dan Islam. Untuk perihal dunia Allah tidak membedakan antara orang kafir, orang munafiq, orang musyrik, orang beriman, mereka sama-sama mendapatkan dunia, karena itu merupakan tanggung jawab Allah kepada setiap makhluk, sedang untuk Iman dan Islam tidak setiap orang mendapatkannya.
Perlu kita ketahui bahwa seseorang dapat beriman kepada Allah dan berserah diri kepada-Nya tanpa adanya bimbingan dari seorang rasul utsusan Allah tidak akan mungkin, justru dengan datangnya rasul utusan Allah kepada manusia itu, merupakan ujud belas kasih Allah yang paling besar, karena dengan sebabnya manusia mendapat bimbingan dan petunjuk, sehingga menjadi orang-orang yang beriman dan orang-orang yang berserah diri kepada Allah.
Jadi dengan adanya iman dan Islam pada diri seseorang menunjukkan kepada kita adanya keberuntungan didunia sampai diakhirat, sebab tanpa adanya iman dan islam, seseorang akan sengsara hidup dinua dan diakhirat nanti, karena itu betapa pentingnya ilmu agama dalam kehidupan sehari-hari, untuk diyakini dan diamalkan
Allahul Musta’an
2.PENTINGNYA BELAJAR AGAMA
Islam adalah agama yang mengatur segala aspek kehidupan manusia, wahyu Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. telah sempurna, dan tetap terjaga kemurniaannya sampai hari kiamat. Ajaran Islam merupakan petunjuk bagi manusia agar selamat hidup dunia dan akhirat. Karena hal yang demikian itu penting untuk dipejalari dan diamalkan bagi setiap orang.
Apakah anda mengaku sebagai seorang muslim? Kalau iya, apakah yang telah anda lakukan untuk membuktikan pengakuan anda? Sudahkan anda mengetahui sepenuhnya tentang ajaran agamamu? Sudahkah anda faham tentag hukum-hukum syariat? Atau mungkin selama ini anda tidak peduli dengan konsekwensi menjadi seorang muslim, dan anda beranggapan bahwa mempelajari dinullah Al-Islam ini tidak urgen. Kalau anda beranggapan seperti itu, maka ketahuilah bahwa itu adalah anggapan yang salah. Kok bisa? Ya bisa aja lah. Sekarang mari kita telaah bersama, benarkah belajar agama itu penting.
Belajar agama, awal mula gapai kesuksesan
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ رَسُوْلَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ قَالَ مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِى الدِّينِ
Rasulullah sas. Bersabda: "seseorang yang Allah kehendaki baik, niscaya Allah akan fahamkan dia dalam urusan agama." (HR At-Turmudzie 2857).
Yah, hadits di atas sungguh mengabarkan kepada kita tentang kunci kesuksesan yang selama ini kita belum ketahui atau kita abaikan. Siapa saja yang Allah kehendaki baik, dalam hal apa saja, di dunia maupun di akhirat, maka Allah akan memahamkannya dalam hal agama kepadanya. Dengan kata lain, orang yang tidak faham soal agama, maka itu merupakan satu tanda bahwa Allah menghendaki keburukan pada dirinya. Nah, nggak mau kan kalau kita mendapat keburukan, kegagalan, musibah dan kecelakaan di dunia maupun di akhirat? Maka dari itu, kita harus faham dan mau untuk senantiasa belajar agama, kalau kita meghendaki kebaikan, kesuksesan, dan kebahagiaan. Dengan adanya hadits tersebut membuktikan kepada kita bahwa belajar dan memahami urusan dalam agama ini sangat urgen.
Yang dinamakan kemuliaan adalah manakala kita faham agama
Telah menjadi fitrah manusia di seluruh dunia bahwa dalam hidup ini kita harus menggapai kemuliaan dan berusaha dengan keras untuk mempertahankan nilai mulia selalu melekat pada diri kita. Jangan sampai dalam hidup ini kita menjadi hina dan harga diri kita terndahkan. Bukankah demikian, hai saudaraku? Tentu saja. Dan ini dapat dibuktikan.
Salah satu kemuliaan adalah ketika seseorang benar-benar faham tentang agama. Apabila kita berusaha tafaqquh fiddin (memahami agama) berarti kita telah menempuh jalan yang mengantarkan kita kepada kemuliaan tertinggi, kemuliaan hakiki yang tak tertandingi.
Dengarkanlah, Allah mengajakmu bicara dalam kitab suci-Nya:
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِيْنَ آَمَنُوْا مِنْكُمْ وَالَّذِيْنَ أُوتُوْا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيرٌ
Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Mujadalah : 11)
Ulama sepakat bahwa yang dimaksud berilmu dalam ayat ini adalah orang yang memahami syariat islam. Orang yang mempunyai pengetahuan dan pemahaman terhadap agama inilah yang dinamakan berilmu.
Orang yang telah mengaku beriman lalu dia mau menuntut ilmu untuk memahami agama ini, Allah akan mengangkat derajatnya sekian derajat lebih tinggi daripada yang lainnya. Orang beriman tetapi dia tidak begitu faham terhadap urusan agamanya, dia dihadapan Allah jauh lebih rendah dibanding orang beriman yang berilmu dan faham agamanya. Bukannya dia tidak mulia dengan predikatnya sebagai seorang mukmin atau muslim, tetapi orang yang berilmu dan faham agama jauh lebih mulia daripadanya. Tidakkah anda ingin menjadi orang mulia dan paling mulia di antara makhluk-makhluq di dunia ini?
Janji Allah itu selalu dan pasti benar. Kemuliaan atau ketinggian derajat yang ia janjikan itu tidak ada bandingannya. Kemuliaan abadi dan hakiki, kemuliaan dunia dan akhirat, derajat yang tinggi di jannahnya sana. Kalau begitu, kefahaman terhadap agama akan mengantarkan kita kepada kemuliaan dan mengangkat martabat kita setinggi-tingginya?. Yah memang demikianlah. Dengan kata lain, menuntut ilmu agama itu sangat urgent bagi siapa saja.
Mungkin kita perlu argumen untuk beberapa statemen di atas. Baiklah, mari kita kaji bersama sebuah hadits Rasulullah sas yang menunjukkan bahwa dengan ilmu agamalah kita akan mulia dan lebih mulia di antara sekian makhluk yang ada. Perhatikan dan renungkan baik-baik! Rasulullah sas bersabda:
مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَطْلُبُ فِيهِ عِلْمًا سَلَكَ اللَّهُ بِهِ طَرِيقًا مِنْ طُرُقِ الْجَنَّةِ وَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا رِضًا لِطَالِبِ الْعِلْمِ وَإِنَّ الْعَالِمَ لَيَسْتَغْفِرُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ وَالْحِيتَانُ فِي جَوْفِ الْمَاءِ وَإِنَّ فَضْلَ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ
"Barang siapa menempuh perjalanan untuk mencari ilmu, maka Alloh akan memudahkan jalan baginya menuju surga. Sungguh para malaikat akan mengepakkan sayap-sayapnya karena senang terhadap apa yang dilakukan oleh penuntut ilmu. Sungguh orang yang alim itu akan dimintakan ampun oleh semua yang ada di langit-langit dan yang ada di bumi, bahkan semua ikan di tengah lautan. Sungguh keutamaan orang alim dibanding orang ahli ibadah adalah laksana keutamaan bulan di malam purnama atas semua bintang-bintang. (HR Abu Dawud 3157. hadits ini dinilai shahih oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih wa Dlaif Al-jami'ish Shaghir 11243).
Itulah kemulian yang akan anda raih. Sebuah kemulian yang membawa keuntungan dunia dan akhirat. Semua makhluk di bumi dan di langit-langit menghormatimu dan mereka memohon ampunan untukmu. Dua keuntungan sekaligus yang anda raih. Kemuliaan dunia dan keberuntungan akhirat. Keberuntungan akhirat, mendapatkan ampunan dari Allah adalah kemuliaan hakiki. Siapakah yang lebih mulia dari pada orang yang mendapat ampunan dari Allah. Sebegitu pentingnya ilmu agama untuk kita mempelajari dan memahaminya. Sekian banyaknya keuntungan yang akan kita raih, keuntungan dunia dan yang terutama keuntungan akhirat. Sekarang, tunggu apa lagi? Mulailah sejak ini untuk menempuh jalan-jalan menuju ilmu syar'i.
Kefahaman kita terhadap agama merupakan tolok ukur kemulian harga diri kita, ketiggian martabat kita, dan keselamatan kita di akhirat sana. Marilah kita mengkaji lembar demi lembar tulisan para pendahulu kita. Marilah kita pelajari hadits-hadits Nabi Muhammad sas yang berisi penjelasan tentang agama kita. Banyak-banyaklah berkumpul di majlis ilmu. Mendekatlah kepada ulama, supaya engaku lebih banyak mendapatkan siraman ilmu dan nasihat. Dengarkan setiap untaian kata yang terucap dari lisan para ahli ilmu, kemudian renungkanlah dan buktikan dalam kehidupanmu.
Berjuanglah wahai saudaraku....
Selamat anda mengarungi lautan ilmu...
Semoga Allah menjagamu selalu...
Mengankat derajatmu dan memuliakanmu...
Serta, mengampunimu dan memasukkanmu ke dalam jannah-Nya...
3. DEKADENSI MORAL AKIBAT
MEMENTINGKAN DUNIA
Rasulullah saw. diutus oleh Allah untuk menyempurnakan akhlak. Sejarah telah membuktikan bahwa bangsa Arab sebelum diutusnya Rasulullah saw., merupakan bangsa yang rusak akhlaknya, sehingga orang menyebutnya “Masyarakat Jahiliyah”. Dalam kehidupan sehari-hari, mereka memperturutkan hawa nafsu, siapa diantara mereka yang kuat, mereka itulah yang berkuasa. Karena kebejatan moral mereka itulah Allah, dengan belas kasih-Nya mengutus Nabi Muhammad saw. kepada mereka dengan membawa wahyu.
Selama kurang lebih 23 tahun Rasulullah saw. menyampaikan da’wahnya, dengan berbagai macam rintangan dan hambatan, tidak hanya intimidasi, tekanan sifik, tuduhan-tuduhan yang miring, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an : bahwa Rasulullah dituduh sebagai orang yang gila, tukang sihir, tukang syair, orang yang sesat sampai kepada ancaman bunuh. Namun dengan kesabaran dan bimbingan Allah beliau berhasil merobah pola pikir mereka dari adat jahiliyah menjadi orang beriman, tunduk dan patuh kepada perintah Allah dan Rasul-Nya, dan menjahui segala larangann-Nya, menjadi orang yang berakhlak mulia.
Dari masyarakat jahiliyah menjadi orang beriman, berakhlak mulia itulah, menunjukkan bukti kepada kita bahwa akal fikir manusia tidak mampu menyelesaikan problem yang dihadapi dalam kehidupann sehari-hari. Karena tanpa adanya bimbingan, manusia cenderung melakukan hal-hal yang negatif, menyimpang, menuruti hawa nafsu. Dari fakta sejarah telah membuktikan dalam hal ini, kaum-kaum yang terdahulu yang dibinasakan oleh Allah, karena mereka tidak mengikuti petunjuk para rasul utusan Allah.
Dalam kehidupan para shahabat, setelah menerima Islam dengan penuh keyakinan, berbalik seratus delapan puluh derajad, dimasa jahiliyah yang mereka pikirkan hanya soal dunia dan dunia, setelah menerima Islam, mereka amat mementingkan kehidupan akhirat, walaupun dunia yang ada pada mereka amat sangat minim, seakan-akan mereka tidak butuh lagi dengan dunia, sebagai contoh :
· Kehidupan Ash-Haabush shuffah, mereka tinggal di masjid tanpa bekal, tiada harta, keluarga, maupun pekerjaan.
· Para shahabat mengikuti hijrah Nabi saw. Ke Madinah, mereka tinggalkan semua kekayaan yang ada di Makkah, sampai-sampai anak, isteri dan keluarga yang tidak mau diajak hijrah, mereka tinggalkan begitu saja.
· Mus’ab bin Umair tatkala wafat tidak ada kain kafan yang menutupi tubuhnya, selembar kain yang cupet, ditarik keatas kakinya nampak, ditarik kebawah kepalanyapun terbuka.
· Rasulullah saw. dalam kehidupan sehari-haripun biasa lapar bahkan sampai mengganjal perutnya dengan batu.
· Abu Hurairah ra. tatkala sholat subuh bersama Nabi saw. jatuh tersungkur karena lapar.
· Dan masih banyak lagi peristiwa yang dialami Rasulullah saw. bersama shahabat yang menunjukkan betapa minimnya harta dunia buat mereka
Mereka sama mementingkan kehidupan akhhirat, mereka merasa cukup, dan bagi mereka dunia dianggapnya barang yang kecil, walaupun yang ada pada mereka sedikit, hal ini karena adanya keyakinan bahwa jika seseorang mementingtingkan akhirat, Allah akan mudahkan dunia baginya. sebagaimana telah disebutkan dalam sabda Rasulullah saw. berikut :
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ كَانَتِ الآخِرَةُ هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ غِنَاهُ فِى قَلْبهِ وَجَمَعَ لَهُ شَمْلَهُ وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِىَ رَاغِمَةٌ وَمَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ وَفَرَّقَ عَلَيْهِ شَمْلَهَ وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلاَّ مَا قُدِّرَ لَهُ
Dari Anas bin Malik berkata Bersabda Rasulullah saw. Barang siapa akhirat itu menjadi keinginannya, Allah akan menjadikan kayanya hati, dan Allah akan mengumpulkan perkaranya, dan dunia itu mudah baginya. Dan barang siapa yang keinginannya dunia, Allah akan menjadikan kefakiran diantara dua matanya, dan memporak porandakan perkaranya sedang dunia tidak datang kepadanya kecuali apa yang telah ditetapkan untuknya. (H.R.Imam At-Turmudzie juz.9 hal.348)
Jika seseorang mementingkan dunia dan melupakan kehidupan akhirat, Allah swt. tidak memberikan dunia kecuali yang telah ditetapkan, perkara yang dihadapi semakin bertambah banyak (tidak kunjung selesai) dan menjadikan hati mereka rakus, tidak puas dengan dunia yang mereka miliki dan demikian pula sebaliknya. Karena itu Rasulullah saw. dalam sebuah haditsnya memperingatkan kepada kita untuk berhati-hati dengan dunia, karena banyak orang yang terjerumus dan tergelincir karenanya, sehingga melupakan kehidupan akhirat, sebagaimana disebutkan pada hadits berikut :
عَنْ كَعْبِ بْنِ عَيَّاضِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يَقُوْلُ إنَّ لِكُلِّ أُمَّةٍ فِتْنَةً، وفِتْنَةُ أُمَّتِي المَالُ
Dari Ka'ab bin 'Iyadl ra. berkata : Aku mendengar Rasulullah Shallallâhu 'alaihi Wa Sallam bersabda : Sesungguhnya untuk tiap-tiap ummat manusia itu ada ujian dan ujian ummat-Ku adalah harta (Hadits Riwayat Ka'ab bin 'Iyadl dikeluarkan oleh Imam At-Turmudzie)
Pesan Rasulullah saw. tersebut menunjukkan kepada kita betapa bahayanya dunia bagi kehidupan manusia. Seseorang yang telah mendapatkan limpahan harta sebanyak apapun selalu saja kurang dan tidak puas-puasnya. Sampai digambarkan jika seseorang mempunyai satu lembah yang berujud emas, sungguh dia akan mengingingkan lembah yang lainnya. Ujung-ujungnya mereka lalai dan banyak berbuat maksiyat.
Karena itu, sebagaimana yang kita saksikan dalam kehidupan sekarang ini, karena Allah telah melimpahkan dunia ini kepada manusia, maka yang terjadi adalah dekadensi moral merebak dimana-mana, tidak hanya dikota-kota besar namun juga telah menyebar keseluruh pelosok desa. Dari kenyataan ini, benarlah sabda Rasulullah saw, yang memperingatkan agar berhati-hati terhadap dunia. Dan sejarahpun telah membuktikan akan kebenaran hal ini, dimana manusia mementingkan perihal dunia, disanalah timbulnya kebejatan moral manusia yang akhirnya turunlah adzab Allah. Na’udzubillahi min syarri dzalika


0 komentar:
Posting Komentar