Rubrik Konsultasi Syari'ah

Minggu, 27 Maret 2011
KELUARGA SULIT DIAJAK BERBUAT KEBAIKAN

Assalamu 'Alaikum  wr.  wb.

Ustadz, saya ingin menanyakan tentang keadaan keluarga saya. Saya sebagai kepala rumah tangga yang selama ini telah berusaha sekuat tenaga untuk menjadikan baiknya isteri, dan anak-anak. Berbagai macam cara telah saya tempuh dan sanksipun telah saya sampaikan, namun tetap saja keluarga saya sulit diajak pada kebaikan, seperti halnya diajak sholat berjama'ah di masjid, isteri dan anak perempuan saya perintah agar memakai jilbab, diajak mengkaji Al-Qur'an dan yang lainnya. Tolong ustadz diberikan pemecahannya?
Suparjo, 085488797xxx

Wa'alaikum salam wr. wb.
Bapak Suparjo, semoga dibelas kasihani oleh Allah Ta'ala.
Berdasarkan usaha yang telah bapak lakukan, mestinya sudah benar dan membuahkan hasil, sebab seseorang tidak dibebani kecuali menurut kemampuan yang ada, namun kenyataannya masih nihil. Mudah-mudahan karena waktu saja yang Allah belum menampakkan hasil tersebut. Selain itu perlu diketahui bahwa seseorang yang diberi kemampuan berbuat kebaikan itu, karena adanya beberapa hal yang mendukungnya. Seperti halnya adanya lingkungan yang baik, banyak teman untuk melakukannya, ada contoh dalam melakukannya dan lain sebagainya.  Karena pada dasarnya manusia itu tidak mempunyai daya dan kekuatan untuk berbuat sesuatu kebaikan jika Allah tidak memberikan pertolongan. Untuk mendapatkan pertolongan Allah swt. selayaknya seorang hamba mengikuti akan petunjuk-Nya, sebagaimana yang disampaikan oleh Rasulullah saw. pada hadits berikut :

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ: إِنَّ اللهَ طَيِّبٌ لاَ يُقْبَلُ إِلاَّ طَيِّبًا, وَ إِنَّ اللهَ اَمَرَ الْمُؤْمِنِينَ بِمَا اَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِيْنَ فَقَالَ تَعَالَى يَاأَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوْا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَ اعْمَلُوْا صَالِحًا (المؤمنون : 51) وَ قَالَ تَعَالَى يَااَيُّهَاالَذِيْنَ اَمَنُوْا كُلُوْا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ. (البقرة: 182) ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلُ يُطِيْلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ اَعَبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ اِلَى السَّمَاءِ يَا رَبِّ يَا رَبِّ وَ مَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَ مَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُدِيَ بِالْحَرَامِ فَأَنَّ يُسْتَجَابُ لَهُ

Dari Abu Hurairah  ra. Berkata, bersabda Rasullulah saw : “ sesungguhnya Allah itu baik tidak menerima kecuali yang baik, dan sesungguhnya Allah memerintahkan kepada orang-orang beriman sebagaimana memerintahkan kepada para Rasul, Firman Allah Ta’ala : 
wahai para Rasul makanlah kalian dari (barang) yang baik dan beramal shalihlah kalian (surat Al-Mukminun ayat 51) dan Firman Allah Ta’ala : wahai orang-orang yang beriman makanlah kalian dari (barang) yang baik, apa yang Kami telah rezqikan kepada kamu kalian (surat Al-Baqarah ayat 182), 
kemudian Rasulullah saw. menyebutkan tentang seseorang yang jauh safarnya, kusut rambutnya, berdebu seraya memanjangkan kedua tangannya kearah langit dan berdo’a ya rabbi ya rabbi, sedang makanannya (dari makanan yang) haram, minumannya (dari minuman yang) haram, pakaiannya (dari pakaian yang) haram, dan dibesarkan dari barang yang haram, maka bagaimana diijabahi untuknya. (HR. Imam Muslim)

Dari hadits diatas dapatlah diambil pelajaran bahwa Allah adalah dzat yang baik dan mencintai pada kebaikan,  Allah swt. tidak senang pada yang jelek dan menolak perbuatan yang jelek pula. Allah swt. memerintahkan kepada orang orang yang beriman sebagaimana Allah telah memerintahkan kepada para utusan-Nya. Mereka disuruh untuk memakan dari barang barang yang baik dan beramal yang baik pula. Allah swt. tidak akan mengijabahi do’a orang-orang yang bergelimang dengan barang yang haram, walaupun mereka berdo’a diwaktu dan tempat yang ijabah, Allah tetap tidak mengijabahi untuknya.

Dari adanya riwayat hadits yang disampaikan oleh shahabat Abu Hurairah tersebut, hendaklah kita menyadari bahwa untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang baik, kita akan terhalang /berat dalam melakukannya, jika kita tidak dapat meninggalkan barang-barang yang haram, untuk itu keluarga yang berat melakukan kebaikan jangan-jangan masih langganan barang yang haram, baik dari hal makan, minum, berpakaian, serta segala sesuatu yang menjadikan diri dan keluarganya hidup dari barang yang haram.

Jika benar, hendaklah dibersihkan/ditinggalkan terlebih dahulu, dan hendaklah dicoba dan dijalani langkah-langkah berikut ini   :
Ø  Bertaubat dari segala dosa yang pernah dilakukannya, serta memperbaiki amalan-amalan dengan cara mencontoh suri tauladan Rasulullah saw.
Ø  Selalu memanjatkan do’a kepada Allah swt akan kebaikan diri dan keluarganya dan selayaknya dalam berdo’a hendaknya mencari tempat/waktu yang ijabah
Ø  Memberikan contoh kebaikan kepada keluarganya, jangan hanya sekedar memerintah saja sedang kita tidak melakukannya, karena Allah murka kepada orang yang hanya memerintahkan saja tapi tidak berusaha melakukannya
Ø  Menghindarkan diri dari barang-barang yang haram baik untuk makan, minum, pakaian, tempat tinggal dan segala sesuatu yang dibutuhkan diri dan keluarganya
Ø  Bersabar dan istiqamah dalam bekerja dan beramal sholeh, berusaha sekuat tenaga dalam mencari rezqi yang halal, menghindarkan diri dari barang yang harom.

Semua orang mempunyai keinginan agar diri dan keluarganya dalam keadaan baik dan selalu mendapat perlindungan Allah ta’ala, dan juga seesorang menyadari akan kelemahan dirinya dan meyakini bahwa hanya kepada Allahlah yang dapat menolongnya. Karena itu bapak tinggal pilih :
Ø  Menggunakan barang barang yang serba haram, yang akhirnya semua amalan dan do’a ditolak oleh Allah berdasarkan hadits diatas, dan menjadi penyabab beratnya mengerjakan kebaikan
Ø  Menahan hawa nafsunya, dan berusaha sekuat tenaga menjauhkan diri dan keluarganya dari barang yang haram, dengan harapan akan mendapatkan pertolongan Allah setiap saat.


0 komentar:

Posting Komentar