SAMUDRA ILMU-ILMU AL-QUR‘AN
Kitab ini berjudul Mabahits fi ‘Ulum Al-Qur`an, yang artinya beberapa pembahasan tentang ilmu-ilmu Al-Qur`an. Sesuai dengan judulnya, kitab ini berisi tentang berbagai hal yang berhubungan dengan ilmu-ilmu Al-Qur`an. Pengarang kitab Mabahits fi ‘Ulum Al-Qur`an adalah Manna’ Khalil Al-Qaththan, beliau adalah ahli tafsir dan fikih dari Mesir serta Direktur Sekolah Tinggi Hukum yang bertempat di Riyadh. Kitab Mabahits fi ‘Ulum Al-Qur`an diterbitkan tahun 1973 M/1393 H oleh penerbit Mansyurat Al-‘Ashr Al-Hadits. Dan ini merupakan cetakan yang ketiga. Kitab Mabahits fi 'Ulum Al-Qur`an mempunyai ketebalan yang terdiri dari 400 halaman dengan ukuran panjang 24 cm dan lebar 16 cm. Kitab ini termasuk kitab yang lebih ringkas jika dibandingkan dengan kitab Al-Itqan fi 'Ulum Al-Qur`an karya Jalaluddin As-Suyuthi Asy-Syafi’i dan Al-Burhan fi 'Ulum Al-Qur`an karya Bahruddin Muhammad bin Abdillah Az-Zarkasyi.
Secara umum kitab Mabahits fi ‘Ulum Al-Qur`an, berisi pembahasan tentang pengertian ilmu Al-Qur`an, pengertian Al-Qur`an, pengertian wahyu, pengertian al-makiyah dan al-madaniyah, sebagian turunnya ayat, cara Al-Qur`an diturunkan, nasikh dan mansukh, mutlaq dan muqayyad, permisalan-permisalan dalam Al-Qur`an, sumpah-sumpah dalam Al-Qur`an, pengertian terjamah Al-Qur’an, pengertian tafsir dan ta’wil, pembicaraan tentang mufassir, pembicaraan tentang pertumbuhan dan perkembangan tafsir, serta pembicaraan tentang kitab-kitab tafsir yang masyhur.
Sedangkan secara rinci kitab ini terdiri atas 26 bagian, adapun pembahasannya antara lain: Bagian pertama-ketiga berisi penjelasan tentang pengertian ilmu dan pertumbuhannya serta perkembangannya, pembahasan tentang Al-Qur`an, ta'rifnya, nama-nama Al-Qur`an, perbedaan Al-Qur`an dengan hadits qudsi dan hadits nabawi, pembahasan tentang wahyu,, makna wahyu, cara Allah mewahyukan kepada malaikat-Nya, cara Allah mewahyukan kepada para Rasul-Nya.
Bagian keempat-ketuju berisi tentang ayat makiyah dan madaniyah. Penyusun juga menjelaskan tentang faedah ilmu makiyah dan madaniyah, selain itu juga disebutkan ayat yang pertama dan terakhir turun serta faedah-faedahnya, ababun-nuzul (sebab turunnya ayat), turunnya Al-Qur`an secara langsung dan berangsur-angsur serta hikmah turunnya ayat secara berangsur-angsur. Pengarang menjelaskan bahwa turunnya Al-Qur`an ada dua tahap: pertama, dari Lauh Mahfudh ke Bait Al-‘Izzah di langit dunia pada malam lailah al-qadar. Kedua, Al-Qur`an diturunkan dari langit dunia ke bumi secara berangsur-angsur dalam waktu 23 tahun.
Bagian kedelapan-kesepuluh berisi tentang pengumpulan Al-Qur`an dan penyusunannya, mulai dari masa Rasulullah saw, Abu Bakar Ash-Shidiq, dan masa ‘Utsman bin 'Affan. Selain itu juga berisi tentang turunnya Al-Qur`an dengan tujuh huruf. Dalam masalah ini ulama berselisih tentang maksud tujuh huruf, antara lain adalah sebagian mereka ada yang mengatakan bahwa tujuh huruf adalah tujuh bahasa dari bahasa-bahasa Arab dengan satu makna dan ada yang mengatakan tujuh bacaan. Qiraat dan qurra` juga tak luput dari pembahasan dalam kitab ini.
Bagian kesebelas-keenam belas berisi tentang qaidah-qaidah yang harus diketahui oleh mufassir, segala hal yang berkaitan dengan ayat muhkam dan mutasyabih, 'am (umum) dan khash (khusus), nasikh dan mansukh, muthlaq dan muqoyyad, serta manthuq dan mafhum.
Bagian ketujuh belas-kesembilan belas berisi tentang kemu'jizatan Al-Qur`an, permisalan-permisalan dalam Al-Qur`an, sumpah-sumpah dalam Al-Qur`an, cerita-cerita yang terdapat dalam Al-Qur`an, dan terjamah Al-Qur`an.
Bagian kedua puluh-dua puluh tiga berisi pembahasan tafsir dan ta'wil, syarat-syarat untuk menjadi seorang mufassir, tumbuh kembangnya ilmu tafsir, penafsiran bil-ma`tsur dan penafsiran bir-ra`yi.
Kitab ini diakhiri dengan bagian kedua puluh enam yang membahas tentang biografi singkat ulama' tafsir yang masyhur, antara lain adalah Ibnu Abbas, Mujahid bin Jibr, Ath-Thabari, Ibnu Katsir, Fahruddin Ar-Razi, Az-Zamakhsyari, dan Asy-Syaukani.
Lengkap rasanya ilmu-ilmu Al-Qur‘an dengan terbitnya kitab ini. Jauh memang jika dibandingkan dengan kitab karangan pendahulunya, yaitu Kitab Al-Itqan karangan Imam As-Suyuti dari segi kelengkapan maupun kualitas. Akan tetapi yang membuat kitab ini cukup berbobot adalah karena penyusun kitab ini cukup mahir dalam hal sistematika penulisan suatu kitab, sehingga pembaca modern cenderung betah membaca dengan sistimatikanya. Tidak seperti kitab pendahulunya yang cenderung monoton dalam sistematika penulisan, kalau boleh digambarkan seperti gerbong kereta yang terus bersambung. Selain itu kitab Mabahist fi Ulumil Qur‘an ini juga banyak merujuk dan menginduk kepada kitab-kitab sejenis yang tidak diragukan lagi kualitasnya, selain kitab Al-Itqan fi ‘Ulum Al-Qur`an, penyusun juga merujuk kepada Kitab Al-Burhan fi ‘Ulum Al-Qur`an karangan Imam Az-Zarkasyi, Minhajul Furqan fi ‘Ulumil Qur‘an karangan Imam Muhammad Ali Salamah, Muqaddimah fi Ushulit Tafsir karangan Imam Ibnu Taimiyah dan kitab Tafsir wal Mufassirun karangan Imam Muhammad Husain Adz-Dzahabi yang terkenal itu.
Terakhir, buku ini sangat pantas untuk dijadikan referensi dalam masalah ilmu-ilmu Al-Qur‘an selain karena cukup lengkap isinya dan ringkas pembahasannya, kitab ini juga juga memiliki sitematika yang baik.


0 komentar:
Posting Komentar