Rubrik Akidah

Jumat, 25 Maret 2011
KHUSNUL KHATIMAH

Khusnul Khatimah adalah akhir kehidupan seseorang yang baik, khusnul khatimah adalah harapan bagi setiap orang beriman, hingga berulang kali seseorang itu tidak jemu-jemunya memanjatkan do’a kepada Allah untuk diberikannya khusnul khatimah dalam akhir hidupnya, disamping karena anjuran yang diajarkan oleh Rasulullah saw. 

Sebagai bukti yang nampak buat seseorang dikatakan matinya dalam keadaan khusnul khatimah adalah dimana seseorang itu beramal shaleh disitulah Allah swt. mencabut nyawanya.

عَنْ اَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ وَاِذَا اَرَادَ الله ُ بِعَبْدِهِ خَيْرًا اِسْتَعْمَلَهُ قِيْلَ : كَيْفَ اِسْتَعْمَلَهُ ؟ قاَلَ يُوَفِقُهُ لِعَمَلٍ صَالِحٍ قَبْلَ الْمَوْتِ ثُمَّ يَقْبِضُهُ عَلَيْهِ

Dari Anas ra. bahwasannya Nabi saw. bersabda : Jika Allah menghendaki kebaikan seseorang hamba, maka hamba itu akan diperalatnya, tanya (shahabat)  bagaimana Allah memperalatnya? Jawab Nabi saw. Allah memberi kepadanya taufiq (kecocokan) untuk beramal shaleh sebelum matinya, lalu Dia Allah mencabut nyawanya (saat itu). (H.R. Imam Ahmad, Turmudzi, Hakim dan Ibnu Hiban)

Seseorang dikatakan matinya dalam keadaan khusnul khatimah, jika serorang diakhir hayatnya melakukan amal saleh, dan disaat itulah dia meninggal dunia, demikian pula sebaliknya seseorang yang mati dalam keadaan ma’syiat kepada Allah dan Rasul-Nya, menunjukkan bahwa dia itu mati dalam keadaan su’ul khatimah

Dengan adanya hadits tersebut diatas dan dengan tidak tahunya kita kapan mati itu datang menjemputnya, maka hendaknya bagi orang yang beriman selalu saja menjalani amal shaleh dalam kehidupan sehari-hari, agar disaat Allah menghendaki mencabut nyawa, maka kita sudah dalam keadaaan khusnul khatimah. Dan hendaknya dijaga benar agar tidak menjalani keburukan atau berma’syiat kepada Allah dan Rasul-Nya, jangan-jangan ajal kita datang disaat kita berma’syiat, hingga akhirnya kita dimasukkan oleh Allah kelompoknya orang-orang yang su’ul khatimah yang akan mendapatkan kesengsaraan di neraka. 

Wa na’udzu billah min syarri dzaalika

 BUKTI KECINTAAN SESEORANG
KEPADA ALLAH

Masing orang bisa jadi menilai diri sendiri dan orang lain akan berlainan satu dengn yang lainnya, siapa diantara mereka yang dipandang baik dan buruk dihadapan Allah, karenamemang kmampuan daya fikir dan pengetahuan seseorang tidak sama. Sedang berasarkan nash yang ada dalam Al-Qur'an Allah telah menyebutkan berkaitan dan hal tersebut. Berikut adalah kajian tentang bukti kecintaan seseorang kepada Allah.


قُلْ إِنْ كُنتُمْ تُحِبُّوْنَ اللهَ فَاتَّبِعُوْنِي يُحْبِبْكُمُ اللهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَاللهُ غَفُوْرُُ رَّحِيْمُُ

'Katakanlah : "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah Aku,
niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu".
Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang'.
(QS. Ali-Imron (03) ayat 31)

Sebagai konsekwensi keimanan seseorang kepada Allah adalah mengikuti sunnah Rasullah saw. Mencintai Rasulullah saw serta mengikuti segala apa yang telah dicontohkan oleh Rasulullah saw adalah merupakan bukti kecintaan seseorang kepada Allah, sebagaimana telah difirmankan oleh Allah dalam Al-Qur'an Ali-Imron (03) ayat 31)

Ayat tersbut menjelaskan bahwa bukti dari kecintaan seseorang kepada Allah adalah mengikuti sunnah Rasulullah saw, dan mengikuti Rasulullah saw dalam segala amalannya, merupakan sarana untuk mendapat kan kecintaan dan ampunan dari Allah Ta'ala.

Seseorang tidak akan dianggap sempurna imannya, walaupun telah melaksanakan berbagai macam amalan ibadah, selagi belum mampu memaksakan hawa nafunya untuk tunduk dan patuh kepada Rasulullah saw. Pembenaran dalam hal ini, berdalil pada sabda  Rasulullah saw berikut :

عَنْ اَبِي مُحَمَّدٍ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرَوَ بْنِ الْعَاصِ رَضِيَ اللهُ عَنْمُهَا قَالَ قَالَ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ : لاَ يُؤْمِنُ اَحَدُكُمْ حَتَّى يَكُوْنَ هَوَاهُ تَبَعًا لِمَا جِئْتُ بِهِ

"Dari Abi Muhammad ‘Abdillah bin ‘Amrin bin ‘Ash ra. berkata : Bersabda Rasulullaah saw : Tidak sempurna Iman salah seorang dari kamu sekalian sehingga hawa nafsunya mengikuti apa yang didatangkan kepadaku (wahyu)." (Arba'im Mawawiyah no.41)

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُوْنَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَلَدِهِ وَوَالِدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِيْنَ

"Seseorang di antara kamu belum beriman sehingga aku lebih dicintainya dari pada kedua orang tua, anaknya dan seluruh manusia." (HR. Bukhari dan Muslim).

Dalam diri Rasulullah saw terdapat akhlak yang mulia, keberanian dan kemuliaan. Barangsiapa melihatnya secara tiba-tiba akan takut kepada nya, dan barangsiapa yang bergaul dengannya maka dia akan mencintainya. Rasulullah saw telah menyampaikan risalahnya, memberi nasihat kepada umat, mempersatukan kalimah, membuka beberapa hati manusia bersama para sahabatnya dengan mempersatukan mereka dan membuka banyak negeri dengan perjuangan mereka untuk membebaskan manusia dari penyembahan sesama manusia menuju penyembahan terhadap Tuhan manusia.

Rasulullah saw dan para sahabatnya telah menyampaikan kepada kita agama Islam secara sempurna tanpa tercampur dengan bid'ah dan khurafat, dan tidak perlu ditambah atau dikurangi, karena Islam yang dibawa Nabi Muhammad saw telah sempurna, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur'an surat Al-Maidah ayat 3 berikut :

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيْتُ لَكُمُ اْلإِسْلاَمَ دِينًا

"Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agamamu."  (QS. Al-Maidah ayat  3)

Oleh karenanya, ikutilah Rasulullah saw secara menyeluruh , tanpa kecuali sesuai dengan kemampuan dan janganlah menambah, mengurangi atau membuat syari'at yang tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah saw serta tidak dikerjakan oleh sahabat-Nya, Karena Allah telah menyatakan bahwa pada diri Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam terdapat contoh suri tauladan yang baik, bagi setiap orang yang mempunyai keyakinan akan adanya hari bangkit bertemu kepada Allah. sebagaimana telah difirmankan oleh Allah dalam Al-Qur'an yang menyebutkan :

لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُوْلِ اللهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوْا اللهَ وَالْيَوْمَ اْلأَخِرَ وَذَكَرَ اللهَ كَثِيرًا

"Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah." (QS. 33:21)

Dan ketahuilah bahwa cinta kepada Allah dan Rasul-Nya yang benar mempunyai konsekuensi untuk melaksanakan perintah perintah Allah dan Rasul-Nya, dan menjahui larangan-larangan-Nya. Artinya setiap orang beriman wajib melaksanakan hukum dengan berpegang teguh kepada Al-Qur'an dan Sunnah dan tidak boleh mendahulukan pendapat orang atas keduanya. Sebagaimana telah difirmankan oleh Allah dalam Al-Qur'an yang menyebutkan : 

يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا لاَتُقَدِّمُوْا بَيْنَ يَدَيِ اللهِ وَرَسُوْلِهِ وَاتَّقُوْا اللهَ إِنَّ اللهَ سَمِيْعٌ عَلِيمُُ

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (QS. 49:1)

Demikianlah keadaan orang beriman, yang mempunyai sifat cinta kepada Allah, sebagai konsekwensi dalam kehidupan sehari-hari, mereka berpegang pada sunnah Rasulullah saw dalam segala aktivitasnya dan membuang jauh-jauh segala amal perbuatan yang tidak bersandar kepada contoh yang telah diperbuat oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan para shahabat-Nya.

0 komentar:

Posting Komentar