Rubrik Renungan Keluarga

Rabu, 30 Maret 2011
Di benda itu, aku sering menyaksikan sepasang pemuda-pemudi yang sedang duduk bersebelahan di taman. Mereka saling berpegangan tangan. Mereka saling berkata dengan perkataan yang saat itu aku anggap sebagai lantunan-lantunan puisi. Berulang kali, selalu sama, walau berbeda-beda orang, namun selalu ada adegan-adegan seperti itu.

Aku menyaksikannya dengan tak berkedip, seakan-akan itu adalah sebuah tontonan yang tak bisa kusaksikan lagi untuk selamanya. Namun aku tak sendiri, engkau ada bersama denganku, menikmati detik demi detik aliran cerita itu. Tak sedikitpun engkau menghalangiku untuk tenggelam dalam tontonan yang membuaikan itu. Walaupun membuat aku melupakan belajar malamku, bahkan kadang-kadang, hingga aku melewatkan shalat maghrib dan shalat isya'ku.

Tahukah engkau, wahai ayah, wahai bunda, bahwa ternyata, sedikit demi sedikit aku mencontoh setiap apa yang kulihat dari tayangan-tayangan tersebut. Aku mulai mencobanya dengan teman-teman sekelasku. Mengajak mereka untuk mempraktekkan setiap gerakan demi gerakan sesuai dangan yang pernah aku saksikan. Ya, aku mulai menjadikan setiap kelakuan para "artis" sebagai "contoh yang baik", menurutku.

Tahukah engkau apa yang terjadi beberapa tahun kemudian? Aku dengan" senang hati" memasukkan diriku dalam pergaulan yang tiada batas. Dalam pergaulan yang di setiap langkah para penghuninya mencontoh kelakuan-kelakuan para "artis". Tak peduli salah atau benar, persis seperti tayangan "benda itu", benar dan salah tak jadi masalah, yang penting "berkah", menurut mereka.

Ayah, bunda, mengapa aku terjerumus dalam lingkungan seperti ini? Karena aku yang tak bisa menjaga diriku? Karena teman-temanku yang tak bisa menunjukkan mana yang baik mana yang salah? Karena engkau yang tak bisa mendidikku?
Ayah, bunda, semua ini diawali karena kesalahan engkau berdua. Kesalahan karena membiarkan aku dengan "senang hati" menjadikan "benda itu" sebagai kiblat akhlaqku. Membiarkanku menjadikan "benda itu" sebagai tuntunan dalam hidupku.

Ayah, bunda, sekiranya engkau tak menempatkan "benda itu" dalam rumah tangga kita, tentunya aku akan menjadi lebih baik.Aku tak akan melawan engkau seperti melawannya sinchan terhadap ibunya. Aku tak akan memukul engkau seperti memukulnya batman, spiderman, atau naruto. Aku tak akan membuang-buang waktuku untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang tak bermanfaat, sebagaimana dulu engkau "mengajariku" untuk membuang-buang waktu. Dengan membiarkan aku tanpa henti dudk manis di depan televisi. Tahukah engkau, "benda itu" adalah perusak awal akhlaq dan kepribadianku.

Engkau memasukkan "benda itu" ke dalam rumah tangga kita, berarti engkau telah memasukkan berjuta-juta perusak moral, akhlaq, dan kepribadianku. Karena sebagian besar, untuk tak dikatakan semuanya, isi dari "benda itu" adalah hal-hal yang bisa membentuk pribadiku, seorang manusia. Apakah engkau rela  aku menjadi sebuah "benda itu" dalam bentuk manusia. Yang di dalamnya berkumpul hal-hal yang merusak. aku bisa merusak rumah tangga, masyarakat, hingga sebuah Negara. Bahkan aku bisa merusak akhiratmu. Karena apa? Karena aku adalah anakmu. Penerus keturunanmu. Penerus agamamu. Jika aku engkau rusak, siapa lagi yang akan jadi anak sholih yang akan mendo'akanmu.
Ayah, bunda, renungkanlah.                                               

Aku berangkat ke sekolah berboncengan dengan seorang perempuan yang kusebut ia di depanmu sebagai "pacar". Di sekolah aku tak mendengarkan pelajaran dengan seksama. Aku mulai main-main handphone. Selesai sekolah aku tak lekas kembali ke rumah. Bersama teman-temanku aku menelusuri kota. Bioskop, mall, warnet, hingga tempat "dugem" adalah tempat tujuan kami. Tak jarang aku mabuk hingga tengah malam. Narkoba pun sudah tak asing dengan kehidupanku.

Aku pulang di atas jam 9 malam. Bahkan tak jarang hingga tak pulang 2 hari. Ketika pulang, kau memarahiku. Aku dengarkan, namun amarahmu tak pernah menghentikanku untuk mengulang aktivitas yang "menyenangkan" itu. Teman-temanku selalu mendukung perbuatanku itu.
Walau menyenangkan, namun hidupku tak lebih baik dari sampah, begitu yang engkau katakan ketika tahu aku mengkonsumsi narkoba. Padahal, itu sudah berjalan 2 tahun. Tapi jujur, aku juga merasa demikian, aku tak tahu apa tujuan hidupku di dunia ini. Aku selalu iri ketika melihat Fulan mengaji di masjid sebelah rumahku. Aku selalu benci memandangnya dengan tatapan jengkel, padahal dia begitu baik padaku. Fulan adalah lulusan sebuah pondok di Yogyakarta. Aku sering berpikir seandainya dulu aku masuk pondok sepertinya, aku pasti akan lebih baik dari padanya. Setiap engkau memarahiku, aku selalu berpikir bahwa aku menjadi sampah disebabkan olehmu.

Ya, penyebabnya adalah engkau. Mengapa engkau memasukkanku ke sekolah yang laki-laki dan perempuan bercampur dalam satu kelas. Siswa baik dan yang buruk menjadi satu. Memang benar selama di sekolah pengawasan cukup baik, untuk tak dikatakan buruk. Guru selalu masuk dalam jam pelajaran, walaupun di luar jam pelajaran aku bebas bergaul dngan siapa saja. Aku bisa bergaul dengan laki-laki atau perempuan, teman yang baik atau yang buruk. Tanpa pengawasan yang ketat. Aku hanya belajar di jam-jam sekolah. Selain jam-jam itu aku pergi ke manapun kusuka.

Sebaik-baik pengawasan di sekolah, pasti tak akan ada pengawasan di luar sekolah. Berpergian tanpa pengawas sangat membebaskanku. Mau pacaran, merokok, minum minuman keras, mengkonsumsi narkoba pun tak akan ada yang tahu, jika bukan karena laporan masyarakat atau karena kebodohanku.

Engkau tak memasukkan aku ke pondok pun sebenarnya tak apa-apa, karena itu bukan hal yang terpenting. Yang paling penting, engkau selalu mengawasiku, Paling tidak, atau bisa dikatakan seharusnya, engkau memperhatikan segala tindak-tandukku, perubahanku. Bukan hanya prestasi belajarku, tapi yang lebih penting lagi adalah kepribadianku.

Aku selalu berpikir, sebenarnya salahku apa? Bukankah ini semua dikarenakan engkau lebih memikirkan prestasi duniaku dibandingkan akhlaqku? Ingatlah, pernahkah engkau memarahiku ketika aku tak sholat? Pernahkah engkau memarahiku ketika aku bergandengan tangan dengan perempuan? Pernahkah engkau memarahiku ketika aku tidak pernah mengaji? Padahal, ketika nilaiku hanya lebih kecil sedikit, engkau memarahiku habis-habisan. Ketika aku gagal naik kelas engkau menamparku. Ketika aku tak lulus engkau menangisiku. Bukankah itu menunjukkan bahwa yang engkau cari adalah dunia, uang, bukan jati diriku, kepribadianku, akhlaqku.

Jadi sebenarnya aku tak pantas engkau marahi karena minum minuman keras, karena mengkonsumsi narkoba. Kenapa? Karena nilai-nilaiku tidak jelek, karena aku sudah pintar, karena aku sudah mendapatkan dunia. Bukankah itu tujuanmu menyekolahkaqn aku di luar. Minuman keras, narkoba, itu berhubungan dengan dosa, dengan akhirat. Jadi wajar saja bagiku jika aku melanggarnya. Itu kan bukan sebagai tujuanmu. Karena apa? Karena engkau menyekolahkanku di tempat yang merusak aku, bukan memintarkan aku. Karena engkau tak memikirkan akhiratku. 
Engkau merusakku ketika engkau menyekolahkanku di tempat yang salah. Tempat yang berpikiran dunia lebih penting dari pada akhirat. Mana buktinya? Lihatlah mata pelajaran harian. Pelajaran agama tidak lebih banyak, untuk tidak dikatakan sedikit, dibandingkan pelajaran umum.

Ayah, bunda, aku ingin baik. Jadi pilihkan bagiku sekolah yang baik.

Aku berduaan dengan perempuan. Aku memegang tangannya. Aku sering berboncengan dengannya. Menghabiskan uang dan waktu bersamanya.Tak ada sedikit pun rasa sesal di hatiku ketika melakukan hal itu. Tak ada.
Awalnya aku tak tertarik sedikitpun dengan hal-hal yang demikian. Tak ada secercik pun perasaan senang di hatiku ketika memikirkan hal-hal seperti itu. Namun semuanya berubah ketika aku mengenal benda itu.

Aku melihat tayangan-tayangan yang berbau "pacaran" di dalamnya. Tayangan-tayangan yang berisi drama cinta antara laki-laki dan perempuan.  Aku mulai tertarik menontonnya, mulai banyak menyisakkan waktu untuk mengikuti setiap adegan-adegan di dalamnya, mulai merasa dan berpikir bagaimana indahnya menjalani hidup seperti itu.

Awal kehancuran bagiku. Tak kusangka penyebab pertama kerusakan pribadiku disebabkan oleh benda kecil itu. Benda yang engkau bawa masuk ke dalam rumah dengan dalih sebagai hiburan. Benda yang engkau anggap memilikinya adalah sebuah keharusan. Benda yang engkau anggap lebih banyak manfaat dari pada mudharat di dalamnya.
Ternyata itu adalah perusak diriku.

0 komentar:

Posting Komentar